INILAH.COM, Blitar - Keterbatasan biaya pengobatan membuat penderita autis, Lorenzius Heri Kurniawan (13) warga Desa Tembalang Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar terpaksa diikat selama lima tahun.
Hal itu terpaksa dilakukan pihak keluarga akibat ulah Heri yang sering mengamuk, hingga mengancam keberadaan orang-orang di sekitarnya.
Elizabet Giyanti (37) ibu kandung Heri menuturkan, perubahan kondisi Heri dimulia sejak umur tiga tahun setelah kelahirannya pada tahun 1997 lalu.
Saat itu kondisinya sudah mulai tidak normal dan sering marah-marah. Tingkah lakunya sering kali berubah-ubah misalnya dia sering dengan tiba-tiba bertingkah aneh.
"Tanpa ada sebab kadang-kadang mendadak dia lari kencang terus kembali," terangnya, Jumat (13/8/2010).
Diceritakan Giyanti, sebelum itu kondisi Heri sangat normal. Terlihat dari beberapa kosa kata yang dia ucapkan. Layaknya anak yang mulai belajar bicara. Beberapa kata seperti ayam, ayah, makan dapat diucapkannya meski belum sepenuhnya jelas.
Setelah usia masuk tiga tahun, kata-kata yang awalnya mampu ia pelajari begitu saja hilang dan disertai dengan perubahan kondisi psikologisnya. Semakin lama kondisi psikologis Heri semakin parah, bahkan dia sudah tak bisa lagi berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Menginjak usia tujuh tahunan dia mulai mengamuk serta merusak sesuatu yang ada di sekitarnya. Sejak saat itulah pihak keluarga mengikat heri di bawah pohon rambutan samping rumahnya.
"Kalau merusak rumah orang lain sih cuma sekali, yang sering merusak barang-barang rumah sendiri dan rumah neneknya," jelasnya.
Akibat kondisi itu, selama setengah tahun terakhir ini Heri mendapatkan bantuan obat dari yayasan Budi Mulia Malang. Namun akibat kondisinya yang labil, obat jarang terminum oleh Heri. Bahkan sering kali sesaat meminum obat, heri selalu marah-marah.
Adanya keterbatasan ekonomi hingga saat ini pihak keluarga tak mampu berbuat banyak, keluarga hanya bisa pasrah. Menghabiskan siang, Heri hanya terdiam dan terikat dibawah pohon rambutan, sedangkan malam harinya kembali kerumah dengan tangan yang masih terikat pula.
"Saya sudah tak tahu harus berbuat apa, mau dibawa ke Rumah sakit tak ada biaya. Saya hanya bisa berharap pada Pemerintah agar mau membantu kesehatan anak ketiga saya ini," pintanya. [beritajatim.com/bar]