INILAH.COM, Jakarta Konflik di Jalur Gaza memicu reaksi keras dari masyarakat Muslim di Tanah Air. Kecaman keras terarah kepada aksi brutal tentara Israel. Bukan mustahil, isu ini bisa jadi momentum munculnya generasi baru Amrozi dkk.
Agresi militer Israel di jalur Gaza telah berjalan 12 hari. Reaksi bergam muncul dari ragam lapisan di tanah air. Masing-masing kelompok ternyata membawa pesan yang berbeda-beda. Baik dari obyek sasaran demontrasinya, maupun tuntutan yang diusung oleh para demonstran.
Bahkan, cukup mudah dijumpai slogan yang kerap diusung oleh trio bomber Bom Bali Amrozi, Imam Samudera, dan Ghufron seperti mati syahid muncul di tengah hiruk pikuk kecaman agresi militer Israel. Inilah yang mungkin memicu munculnya militanisme buta di kalangan demonstran. Sebuah gejala yang wajib diwaspadai pengawal keamanan.
Front Pembela Islam (FPI) menjadi salah satu ormas Islam yang berencana mengirim relawan untuk berperang di Jalur Gaza. Bahkan melalui FPI, telah terdaftar 4.000 orang yang siap menjadi relawan di perang Israel-Palestina.
Selain FPI, ada juga Ansharut Tauhid pimpinan Abu Bakar Ba'asyir yang berencana mengirimkan 200 relawan ke Palestina. Ada juga Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengirimkan 20 relawan medis.
Pengamat intelijen Wawan H Purwanto menilai, reaksi yang muncul di ormas dan partai Indonesia mengesankan dramatisasi dan emosional. Menurut dia, Palestina saat ini lebih butuh bantuan medis dan makanan daripada sukarelawan yang siap mati di Palestina.
Ia khawatir, reaksi yang muncul saat ini berpotensi memunculkan generasi baru Amrozi. "Saya menghawatirkan, kalau Palestina tidak ditangani dengan baik, akan membangkitkan sentimen baru anti negara tertentu. Munculnya Amrozi akibat sentimen seperti itu," katanya kepada INILAH.COM, Rabu (7/1) di Jakarta.
Wawan juga menilai, kalangan teroris yang saat ini masih menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) seperti Noordin M Top masih menunggu momentum tepat untuk bergerak lagi. Pasca pengungkapan persembunyian mereka di Palembang dan Plumpang, sambung Wawan, kalangan teroris terus bergerak. "Saya khawatir, momentum saat ini dimanfaatkan para teroris," tandasnya.
Namun, kehkawatiran Wawan ditepis oleh mantan Ketua Umum Gerakan Pemuda Islam (GPI), Suaib Didu. Menurut dia, aksi yang terjadi saat ini sama sekali berbeda konteks dengan tindakan teror yang dilakukan Amrozi dan kawan-kawan. "Aksi saat ini bukan reaktif. Jelas berbeda dengan aksi Amrozi dan kawan-kawan yang tidak jelas tujuan pengebomannya," tegasnya.
Lalu, bagaimana dengan kostum yang identik dengan seragam para teroris layaknya Amrozi dan kawan-kawan? Suaib menjelaskan, para demonstran yang memakai cadar tujuannya untuk menghindari pantauan intelijen Amerika dan Israel.
Menurut Suaib, demo anti-Israel saat ini jelas berpijak pada aksi kemanusiaan yang bersimpati pada rakyat Palestina. Ketua Umum DPN Relawan Bangsa ini juga masih menganggap wajar pengiriman relawan ke Palestina. "Tapi, yang dikirim harus mengerti betul geografi Palestina. Jangan sampai mati karena ketidaktahuan," ingatnya.
Intelektual Muslim Azyumardi Azra justru melihat repsons masyarakat Indonesia berlebihan dengan rencana pengiriman sukarelawan ke Palestina. Menurut dia, yang mendesak saat ini dibutuhkan rakyat Palestina adalah pengobatan dan makanan. "Pengiriman sukarelawan berlebihan," cetusnya.
Meski begitu, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta ini tidak melihat aksi ormas Islam sejauh ini mengarah pada tumbuh suburnya radikalisme. Azra menilai, aksi yang dilakukan ormas maupaun partai politik atas Palestina hanya bertujuan pencarian eksistensi diri di dalam negeri.
"Agar publik tahu, ormas atau parpol ini paling keras menolak agresi militer. Tujuannya agar mendapat simpati publik," ungkapnya.
Tapi, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut mengingatkan, agresi militer Israel jelas akan memicu radikalisme di Palestina dan tidak menutup kemungkinan di negara lainnya, termasuk Indonesia.
"Secara simplistis, tidak memunculkan Amrozi dan kawan-kawan yang baru. Ini karena tindakan Israel yang memicu Palestina dan negara Islam terpanggil melakukan apa saja, termasuk bom bunuh diri," tegasnya. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !