INILAH.COM, Jakarta Venezuela mengusir Duta Besar Israel dari Caracas. Mereka terang-terangan menuding Israel sebagai teroris dan penjahat perang. Bila ingin menekan Israel, negara-negara lain perlu mengikuti langkah Caracas.
Ketika negara lain masih mengecam, diam-diam Venezuala bereaksi keras atas serangan Israel ke Jalur Gaza. Tanpa banyak cincong, negara yang paling anti Amerika Serikat itu langsung mengusir Duta besar Israel dari Caracas, Selasa (6/1). Artinya tidak ada lagi hubungan diplomatik dengan Israel.
"Venezuela telah memutuskan untuk mengusir Duta Besar Israel Shlomo Cohen dan beberapa staf di Kedutaan Besar Israel. Kami memulai lagi seruan pada perdamaian dan penghormatan pada hukum internasional," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Venezuela.
Venezuela menuduh Israel telah melakukan pelanggaran terhadap hukum internasional dan merencanakan untuk menggunakan terorisme negara terhadap rakyat Palestina. "Pada saat yang tragis dan menyakitkan hati itu, rakyat Venezuela menunjukkan solidaritas yang tak terbatas kepada rakyat Palestina yang heroik," kata pernyataan itu.
Presiden Venezuela, Hugo Chavez, menyebut serbuan Israel ke Jalur Gaza sebagai sebuah tindakan barbar. Dia pun meminta komunitas Yahudi di Venezuela menyatakan sikap melawan barbar Israel.
"Ada komunitas Palestina hidup di sini bersama kami, yang kami sayangi dan cintai. Ada pula (komunitas) Yahudi yang hidup di sini, yang juga kami cintai. Tapi saya berharap komunitas Yahudi ini menyatakan diri mereka melawan (tindakan) barbarian ini. Lakukan. Tidakkah kalian mencela tindakan penganiayaan dan Holocaust? Lihatlah apa yang terjadi (di Gaza). Taruh tangan kalian di hati dan bersikaplah fair," tegas Chavez.
Venezuela bukan satu-satunya negara yang mengambil langkah politik tegas melawan serangan brutal Israel di Gaza. Mauritania, salah satu dari tiga negara-negara di sekitar Arab yang masih mempertahankan hubungan diplomatik penuh dengan Israel, menarik pulang duta besar mereka dari Yerusalem.
Menurut laporan, Mauritania yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel sejak 1999, memanggil pulang dubesnya pada Senin. Tindakan ini sebagai bentuk protes terhadap kekerasan Israel.
Di Mauritania sendiri, kalangan mahasiswa dan pelajar terus melancarkan protes setiap hari. Mereka menentang operasi militer Israel. Mereka pun mendesak pemerintah Mauritania memutuskan hubungan dengan Israel.
Langkah Chavez tentu saja membuat muka Israel memerah. Yigal Palmor, juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel menyebutkan kemungkinan pihaknya akan membalas aksi tersebut dengan mengusir Dubes Venezuela di Yerusalem.
"Tindakan brutal Presiden Chaves tidak menghargai negara dan masyarakat Venezuela yang bersahabat, dengan siapa kami memiliki dan berharap bisa bersahabat selamanya. Siapapun yang fundamentalis dan ekstrimis tak menghargai negara dan rakyatnya," kecam Palmor.
Dan, tentu saja, langkah Chavez dipuji habis pejuang Hamas. Mereka menilai Chavez telah menunjukkan sikap yang berani. Dalam pernyataan resminya, Hamas menyambut baik keputusan Chavez mengusir Dubes Israel dan mengecam agresi Zionis di Jalur Gaza.
"Kami juga kaget dengan fakta bahwa negara-negara Arab tak melakukan tindakan yang sama dan terus saja mempertahankan hubungan diplomatik dengan Israel," bunyi pernyataan tersebut.
Sikap serupa diambil sekitar 150 orang yang menggelar demonstrasi di Beirut, Lebanon, Rabu (7/1). Demonstran yang berasal dari organisasi sayap kiri ini juga mengecam diamnya bangsa-bangsa Arab.
Karena itu, dalam demonstrasi tersebut, mereka juga mengusung foto Hugo Chavez. Apalagi, Chavez juga menyerang Israel dan AS dengan menyebut mereka sebagai penjahat perang yang harus dihadili di mahkamah internasional. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !