COBA bayangkan jika Anda pindah ke Jakarta dari kota kelahiran Anda di luar Pulau Jawa. Kepindahan ini kira-kira 20 tahun lalu, dan kini Anda sudah menikah dan berkeluarga.
Anda tinggal di Bekasi, di pinggiran Jakarta. Harga properti di sana lebih terjangkau. Rumah-rumahnya kecil tapi memadai. Beberapa dari rumah itu bahkan bisa disulap jadi toko dan kios.
Sementara itu, Bekasi dengan populasi 2,2 juta jiwa menjadi semakin padat. kini di sana ada mal yang serba ada: dari bioskop, kafe, hingga pasar swalayan.
Tapi perkembangan ada bahayanya. Dengan begitu banyaknya orang bermukim di kawasan kecil ini, ikatan persamaan identitas jadi tidak terasa.
Terlebih lagi, perjalanan bolak-balik ke tempat kerja di Jakarta benar-benar melelahkan. Anda harus bangun pagi-pagi buta, dan pulang setelah matahari terbenam. Setelah berjam-jam dalam perjalanan, siapa yang punya waktu untuk bertetangga?
Di tengah semua perubahan ini, dengan keberadaan yang jauh dari tempat kelahiran, Anda mulai menyadari pentingnya untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu. Di hari Minggu, keluarga dan teman-teman dari komunitas Anda berkumpul untuk beribadah. Banyak yang tinggal di lingkungan perumahan yang sama.
Awalnya, Anda memindahkan sesi ibadah ini dari rumah ke rumah agar lebih nyaman. Tapi, dengan bertambahnya jumlah jemaat jumlahnya lebih dari 1.500 berpindah-pindah seperti menjadi sangat tidak praktis.
Bahkan, beberapa 'anak' kini sudah memasuki usia 20-an dan mulai membina keluarganya masing-masing.
Tumbuh dan besar di lingkungan disiplin dan sangat relijius, Anda mulai bertanya-tanya tentang masa depan mereka, dan anak-anak mereka, akan seperti apa. Identitas seperti apa yang akan mereka miliki dikelilingi oleh orang-orang dari agama lain?
Dalam sebuah lingkungan yang gelisah seperti ini, gereja menjadi benteng penting: sebuah bimbingan dan penghiburan.
Anda bisa bercerita tentang tanah kelahiran Anda mungkin Tapanuli di Sumatera Utara tapi anak-anak Anda akan sulit membayangkannya. Bagi mereka, itu terlalu jauh, dan yang mereka tahu hanya padang-padang panas di Jawa Barat. Tetap saja, Anda masih berusaha menggunakan bahasa Batak di rumah dan acara-acara ibadah.
Semakin tua, Anda memang semakin merasakan ikatan kuat dengan komunitas ini, juga dengan ibadah mingguannya. Mereka menjadi bagian penting dari hidup Anda.
Tapi di sinilah cerita ini mulai terbuka. Ini adalah tekanan pada sebuah janji akan Indonesia yang sekuler; tekanan yang datang dari kenyataan yang sedang terjadi.
Selama dua dekade terakhir, permohonan untuk sebidang tanah guna membangun gereja tersendat oleh birokrasi berlarut-larut dan kadang berbau diskriminasi.
Setiap kali Anda mencoba cara yang baru mengubah rumah jadi tempat beribadah untuk sementara atau membeli properti, langsung dipersulit. Bahkan mengadakan misa ibadah di tempat yang semi-permanen saja tidak boleh.
Berbagai masalah seperti ini memang menciutkan semangat, tapi Anda tidak kehilangan harapan. Akhirnya, Anda beribadah di sebidang tanah yang memang milik gereja. Tidak ada perlindungan dari panas, angin atau hujan, tapi paling tidak tanah itu milik Anda.
Tapi, pada 8 Agustus, setelah lima minggu berdoa di ruang terbuka seperti ini, Anda lagi-lagi dilarang beribadah Minggu.
Walaupun polisi hadir di tempat itu, mereka tidak melakukan apa-apa. Alih-alih, gerombolan massa yang marah mengintimidasi para jemaat. Mereka mendorong-dorong dan berbuat kasar. Beberapa jemaat sampai terjatuh. Sang pastor sendiri sampai dipukuli. Benar-benar pengalaman menakutkan sekaligus memalukan.
Anda dan jemaat lainnya pulang ke rumah masing-masing. Kemudian, kejadian ini menghebohkan media. Para pemimpin agama dari berbagai kepercayaan mengunjungi komunitas Anda. Politisi ikut turun tangan. Gubernur angkat bicara; bahkan presiden menyinggung insiden ini dalam pidatonya.
Liputan media ini sedikit menghibur; membuat Anda tahu bahwa Anda tidak sendiri. Yang Anda rasakan dari kesulitan menemukan tempat permanen bagi gereja seperti sebuah perasaan yang sudah akrab. Kisah seperti ini berkali-kali terjadi di daerah-daerah pinggiran Jakarta dari Depok ke Tangerang sampai Bekasi.
Rabu malam tiba, dan Anda bertemu seorang penulis Malaysia yang sedang berkunjung. Dia seorang Muslim dan ini adalah malam Ramadhan. Dia tahu kedatangannya sedikit mengusik ibadah Anda, dan dia duduk (dalam gereja yang bangunannya tidak permanen) untuk berbincang dengan Anda dan teman-teman Anda.
Anda menceritakan kisah Anda. Dia mendengarkan dan sesekali mencatat. Akhirnya, dia bertanya, Hari Minggu ini, apa rencana kalian?
Tanpa ragu, Anda menjawab: Kami akan berdoa di tanah kami. Penulis itu pun pergi dan kembali ke Jakarta. Di satu sisi, dia merasa kagum akan keberanian dan kegigihan Anda. Di sisi lain, dia berang akan betapa tidak toleran rekan-rekan seagamanya.
Tapi, ini bulan Ramadhan, dan dia berharap manusia dapat dan akan berubah. [mor]