Minggu, 27 Mei 2012 | 02:29 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Gereja Bekasi
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Karim Raslan
web - Senin, 16 Agustus 2010 | 10:36 WIB
COBA bayangkan jika Anda pindah ke Jakarta dari kota kelahiran Anda di luar Pulau Jawa. Kepindahan ini kira-kira 20 tahun lalu, dan kini Anda sudah menikah dan berkeluarga.

Anda tinggal di Bekasi, di pinggiran Jakarta. Harga properti di sana lebih terjangkau. Rumah-rumahnya kecil tapi memadai. Beberapa dari rumah itu bahkan bisa disulap jadi toko dan kios.

Sementara itu, Bekasi dengan populasi 2,2 juta jiwa menjadi semakin padat. kini di sana ada mal yang serba ada: dari bioskop, kafe, hingga pasar swalayan.

Tapi perkembangan ada bahayanya. Dengan begitu banyaknya orang bermukim di kawasan kecil ini, ikatan persamaan identitas jadi tidak terasa.

Terlebih lagi, perjalanan bolak-balik ke tempat kerja di Jakarta benar-benar melelahkan. Anda harus bangun pagi-pagi buta, dan pulang setelah matahari terbenam. Setelah berjam-jam dalam perjalanan, siapa yang punya waktu untuk bertetangga?

Di tengah semua perubahan ini, dengan keberadaan yang jauh dari tempat kelahiran, Anda mulai menyadari pentingnya untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu. Di hari Minggu, keluarga dan teman-teman dari komunitas Anda berkumpul untuk beribadah. Banyak yang tinggal di lingkungan perumahan yang sama.

Awalnya, Anda memindahkan sesi ibadah ini dari rumah ke rumah agar lebih nyaman. Tapi, dengan bertambahnya jumlah jemaat jumlahnya lebih dari 1.500 berpindah-pindah seperti menjadi sangat tidak praktis.

Bahkan, beberapa 'anak' kini sudah memasuki usia 20-an dan mulai membina keluarganya masing-masing.

Tumbuh dan besar di lingkungan disiplin dan sangat relijius, Anda mulai bertanya-tanya tentang masa depan mereka, dan anak-anak mereka, akan seperti apa. Identitas seperti apa yang akan mereka miliki dikelilingi oleh orang-orang dari agama lain?

Dalam sebuah lingkungan yang gelisah seperti ini, gereja menjadi benteng penting: sebuah bimbingan dan penghiburan.

Anda bisa bercerita tentang tanah kelahiran Anda mungkin Tapanuli di Sumatera Utara tapi anak-anak Anda akan sulit membayangkannya. Bagi mereka, itu terlalu jauh, dan yang mereka tahu hanya padang-padang panas di Jawa Barat. Tetap saja, Anda masih berusaha menggunakan bahasa Batak di rumah dan acara-acara ibadah.

Semakin tua, Anda memang semakin merasakan ikatan kuat dengan komunitas ini, juga dengan ibadah mingguannya. Mereka menjadi bagian penting dari hidup Anda.

Tapi di sinilah cerita ini mulai terbuka. Ini adalah tekanan pada sebuah janji akan Indonesia yang sekuler; tekanan yang datang dari kenyataan yang sedang terjadi.

Selama dua dekade terakhir, permohonan untuk sebidang tanah guna membangun gereja tersendat oleh birokrasi berlarut-larut dan kadang berbau diskriminasi.

Setiap kali Anda mencoba cara yang baru mengubah rumah jadi tempat beribadah untuk sementara atau membeli properti, langsung dipersulit. Bahkan mengadakan misa ibadah di tempat yang semi-permanen saja tidak boleh.

Berbagai masalah seperti ini memang menciutkan semangat, tapi Anda tidak kehilangan harapan. Akhirnya, Anda beribadah di sebidang tanah yang memang milik gereja. Tidak ada perlindungan dari panas, angin atau hujan, tapi paling tidak tanah itu milik Anda.

Tapi, pada 8 Agustus, setelah lima minggu berdoa di ruang terbuka seperti ini, Anda lagi-lagi dilarang beribadah Minggu.

Walaupun polisi hadir di tempat itu, mereka tidak melakukan apa-apa. Alih-alih, gerombolan massa yang marah mengintimidasi para jemaat. Mereka mendorong-dorong dan berbuat kasar. Beberapa jemaat sampai terjatuh. Sang pastor sendiri sampai dipukuli. Benar-benar pengalaman menakutkan sekaligus memalukan.

Anda dan jemaat lainnya pulang ke rumah masing-masing. Kemudian, kejadian ini menghebohkan media. Para pemimpin agama dari berbagai kepercayaan mengunjungi komunitas Anda. Politisi ikut turun tangan. Gubernur angkat bicara; bahkan presiden menyinggung insiden ini dalam pidatonya.

Liputan media ini sedikit menghibur; membuat Anda tahu bahwa Anda tidak sendiri. Yang Anda rasakan dari kesulitan menemukan tempat permanen bagi gereja seperti sebuah perasaan yang sudah akrab. Kisah seperti ini berkali-kali terjadi di daerah-daerah pinggiran Jakarta dari Depok ke Tangerang sampai Bekasi.

Rabu malam tiba, dan Anda bertemu seorang penulis Malaysia yang sedang berkunjung. Dia seorang Muslim dan ini adalah malam Ramadhan. Dia tahu kedatangannya sedikit mengusik ibadah Anda, dan dia duduk (dalam gereja yang bangunannya tidak permanen) untuk berbincang dengan Anda dan teman-teman Anda.

Anda menceritakan kisah Anda. Dia mendengarkan dan sesekali mencatat. Akhirnya, dia bertanya, Hari Minggu ini, apa rencana kalian?

Tanpa ragu, Anda menjawab: Kami akan berdoa di tanah kami. Penulis itu pun pergi dan kembali ke Jakarta. Di satu sisi, dia merasa kagum akan keberanian dan kegigihan Anda. Di sisi lain, dia berang akan betapa tidak toleran rekan-rekan seagamanya.

Tapi, ini bulan Ramadhan, dan dia berharap manusia dapat dan akan berubah. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
39 Komentar
armed
Rabu, 22 September 2010 | 09:42 WIB
kejadian sekarang ini adalah akibat dari kurangnya perhatian pemerintah dalam membangun harmonisasi antar umata beragama, jaman dulu pelajaran sekolah SD, SMP bahkan SMA ada yang namanya pelajaran PMP (pendidikan moral pancasila) dimana isinya ada kita lihat gambar masjid, gereja, fura, dan tempat2 beribadah agama lainya saling bergandengan yang menandakan diantara tempat ibadah tersebut ada saling tolerasni antar umat bergama, jaman sekarang mana ada kita lihat gambar tersebut....ini adalah akibat dari perbuatan2 orang tertentu untuk menghilangkan toleransi itu, sehingga agama tertentulah yang menjadi mendominasi kebebasan.....hahahahah...emang pintar2nya orang ya
ratih
Selasa, 21 September 2010 | 14:43 WIB
Tulisan yang sangat tendensius... bagaimana mungkin sebuah tulisan hanya didasarkan pada imaginasi yang "dangkal" tanpa mengungkap fakta dari orang sekelilingnya... Lagi-lagi TIRANI MINORITAS lah yang terjadi...
alfarade
Kamis, 16 September 2010 | 20:14 WIB
jangan umbar2 kasih lah... waktu insiden terjadi adalah 200 orang yang katanya penuh kasih bentrok dengan 9 pemuda berbaju koko. lalu saling pukul, pendeta keluarkan pistol, trus kena tusuk. lalu bisa-bisanya yang punya pistol jadi pahlawan. ini pengeroyokan, kok yang dikeroyok malah ditahan
del
Kamis, 16 September 2010 | 10:04 WIB
setuju sama beberapa komentar diatas, bahwa dahulu toleransi beragama di sini sangat besar... tapi sekarang? jelas ada provokator... dan provokasi (maaf) datang dari pihak muslim... jadi kalian para muslim yang bijaksana, sebaiknya kuatkanlah diri kalian tidak hanya dengan ajaran agama, tapi kepandaian terhadap hal lain.. supaya bisa menyaring mana yg benar dan salah.... pihak kristen Indonesia masih sangat fanatik mengajarkan KASIH, jadi provokasi masih bisa ditendang jauh2 dari mereka.. so, god loves u all... and thanks for the writer... god bless u too
wanz
Kamis, 16 September 2010 | 06:56 WIB
bikin gereja boleh tapi harus ikut aturan, toleransi penting tapi ingat hormati warga asli lihat kronologis sebenarnya...dr awal pembangunan gereja ditolak warga setempat, ingin bangun gereja tapi hormati keinginan orang lain jangan ngeyel dooooooonk
alfa
Rabu, 15 September 2010 | 20:55 WIB
coba dipikir pikir. umat cuma segelintir, bangunan ibadahnya banyak. tiap suku punya. belum sektenya. isinya impor semua, bukan orang ciketing.peraturan jelas, tanda tangan warga 60/90. umat lain di papua dan nias kena aturan yang sama, pake akal dong biar dpt 60/90.
Andy vanhouten
Sabtu, 11 September 2010 | 15:16 WIB
Sebenarnya singkat saja,, bagi seluruh umat beragama yang ada di indonesia, kalau anda memang benar-benar menekuni ajaran suatu agama maka "BERBUATLAH sesuai dengan ajaran agama tersebut". Tidak mungkin seorang Pendeta,pastor,ustad dsb, mengajarkan agar kita berbuat kekerasan,, saling mengasihi sesama manusia pasti selalu diajarkan oleh mereka.
M. Kanoh
Jumat, 10 September 2010 | 09:54 WIB
Ya, begitulah Indonesia yang kita cintai ini. Sikap anda tak perlu marah apalagi anarkhis. Doakan mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. GBU
asepking
Jumat, 10 September 2010 | 03:50 WIB
Dulu gw prna punya pacar orang kristiani, klo hari2 bsar agama kami saling mnghormati,yg gw tau umat kristiani yg bnr ga ad yg benci am Muslim,pun sebalik nya,yg gw tau blon ade ajaran islam yg nyuruh mmbenci agama lain,tp ga tau apa gw yg kurang ilmu,sebab ajaran sang Rasul kami sangat lemah lembut,nabi Muhammad ga prna ngajarin kekerasan jalan keluar komflik,kecuali uda dalam staus perang,pun klo musuh uda nyerah ga dianiaya ky jaman nya hittleer,gitu aj yg gw tau
Onno
Rabu, 8 September 2010 | 20:00 WIB
Agama adalah yg paling azasi bagi manusia. Masing2 agama memiliki konsep yg pasti tdk bisa dipertemukan dgn yg lainnya. Beragama pun, termasuk mendirikan rumah ibadah atau ritual lainnya tdk bisa terlepas dari konteks sosialnya. Karena itu konteks sosial itu harus diperhatikan. Perlu ada dialog antar tokoh dan antar pemuka agama, tdk bisa karena alasan apapun, sebuah tempat ibadah, entah itu mesjid, gereja, pura, dll tidak memperhatikan realitas sosialnya, tdk boleh ada penindasan, tindakan mo menang sendiri, entah itu mayaritas ataupun minoritas
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.