INILAH.COM, Washington Tidak ingin masa pemerintahannya dianggap gagal, Wakil Presiden Amerika Serikat Dick Cheney membela atasannya menjelang akhir masa jabatannya. Menurutnya Presiden AS George W Bush tak perlu meminta maaf atas kebijakan-kebijaknnya, karena tidak melakukan sesuatu yang ilegal.
"Menurut saya ia tak perlu meminta maaf. Apa yang harus ia lakukan adalah aksi yang beranian dan agresif. Ia telah melakukannya dan tak ada seorang yang melihatnya," ujar Cheney, seperti dikutip Associated Press, Jumat (9/1).
Dalam sebuah wawancara di West Wing kantor wapres di Gedung Putih, Cheney juga menyampaikan Bush tak perlu menyampaikan permintaan maaf atas keterlibatan agensi intel AS (CIA) dalam teknik interogasi kasar kepada tersangka terorisme. Menurutnya, agensi itu tak melakukan sesuatu yang ilegal.
CIA, lanjut Cheney, menggunakan program penyadapan komunikasi tersangka terorisme sesuai prosedur dan metode 'keras' untuk interogasi tersangka utama. Ia juga tak meragukan teknik interogasi dengan menenggelamkan tersangka, seperti yang dilakukan AS pada tiga tersangka utama Al Qaeda pada 2002-2003.
"Teknik itu digunakan oleh mereka yang mengetahi apa yang mereka lakukan. Cara itu terbukti berguna untuk mendapatkan banyak informasi berharga dan bernilai intelijen," sambungnya.
Cheney merasa banyak hal yang telah Bush lakukan namun tak mendapat perhatian dari rakyatnya. Beberapa tindakan Bush, diklaimnya memang membawa perubahan besar bagi dunia.
Di antara hasil kerja Bush yang diklaimnya sukses adalah agresi militer AS ke Irak dan Afganistan, penjara tersangka terorisme di Teluk Guantanamo, pernyataan mengenai nuklir Iran dan Korea Utara, serta krisis ekonomi AS yang mulai membelit seluruh dunia.
Sebelum menjadi Wapres AS, Chenney bekerja untuk Halliburton, sebuah perusahaan besar yang membangun fasilitas tahanan Guantanamo, Kuba. [vin/nuz]