Selasa, 29 Mei 2012 | 04:52 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Hendrawan Supratikno
Paradigma Anggaran SBY Persis Pak Harto
Headline
Hendrawan Supratikno
Oleh:
web - Selasa, 17 Agustus 2010 | 02:26 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Presiden SBY telah membacakan RAPBN 2011 teladengan anggaran belanja lebih dari Rp1.200 triliun. Namun apa yang tertuang tak ubahnya meniru gaya pemerintahan Pak Harto.
Politikus PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno mengibaratkan RAPBN 2011 tak ubahnya bayi yang akan berlari namun kakinya diikat. Menurut Hendrawan, utang yang masih menjadi andalan pembiayaan RAPBN 2011 tak ubahnya tali yang mengikat bangsa ini untuk maju.
Itu menunjukkan bahwa kapasitas perekonomian kita untuk maju dan mandiri sudah tersedot utang. Kalau tidak ada beban utang maka kapasitasnya untuk mandiri, bisa lebih dinamis, ujarnya kepada pers termasuk R Ferdian Andi R dari INILAH.COM di gedung DPR, Jakarta, seusai Sidang Paripurna DPR, Senin (16/8). Berikut wawancara lengkapnya:
Apa komentar Anda atas pidato Presidne terkait dnegan RAPBN 2011 dan nota keuangan?
Yang disampaikan itu kan masih garis besar, tapi ada peningkatan pengeluaran pemerintah. Harapannya RAPBN ini lebih efktif untuk menciptakan dorongan fiskal, agar pertumbuhan ekonomi dapat bergerak cepat.
Bagaimana dengan utang sebagai salah satu sumber RAPBN 2011?
Memang utang kita masih tetap, meskipun porsinya turun menjadi 1,7 % dari PDB, tapi tetap kita tidak bisa lepas dari kecanduan dan ketergantungan dari utang.
Yang menarik untuk bunga utang itu sebesar Rp116 triliun, lebih besar dari anggaran pendidikan, kesehatan dan pertahanan. Anggaran yang diterima oleh ketiga kementrian ini, sama dengan cicilan bunga utang, itu baru cicilan bunga, belum cicilan pokoknya.
Apa maknanya itu?
Itu menunjukkan bahwa kapasitas perekonomian kita untuk maju dan mandiri sudah tersedot oleh utang. Kalau tidak ada beban utang seperti itu maka kapasitasnya untuk mandiri, bisa lebih dinamis.
Bukankah RAPBN 2011 ada peningkatan dibanding dengan APBN 2010?
Ada peningkatan karena pengeluaran belanja kita sudah di atas Rp1.200 triliun. tapi kapasitas kita itu ibarat bayi yang mau berlari namun kakinya dikasih tali, sehingga tidak bisa lari dengan benar karena diikat oleh utang. Ini memprihatinkan dan menyakitkan sebagai bangsa.
Bagaimana secara umum atas penilaian Pidato RAPBN 2011 oleh Presiden SBY?
Pemerintah masih pada pola lama, dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II ini sama dengan acara rutin yang dibuat Pak Harto. Perubahan strategi mendasar itu tidak ada dalam enam tahun terakhir.
Saya khawatir, kita sedang mengulangi ritual yang sama sampai dengan 24 tahun ke depan dengan krisis yang sama pula. RAPBN 2011 ini juga tidak ada perubahan strategi kepada pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA).
Mestinya harus dikatakan bahwa tahun depan kita harus terapkan domestik market obligasi untuk energi dan batubara, sehingga industrialisasi kita menjadi kuat. Kita menggunakan strategi industri hulu hilir sehingga mampu memenuhi kebutuhan.
Lalu apa yang menjadi titik kesamaan Pak Harto dan SBY?
Ini adalah strategi yang sama yang dilakukan pak Harto, yang sepotong demi sepotong, tapi begitu melewati gelombang yang besar, kita akan habis. Jadi paradigmanya sama seperti yang lama. Kita hanya mengulangi jebakan yang sama. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.