INILAH.COM, Jakarta - Isi souvenir dalam perayaan HUT RI di Istana Merdeka, Selasa (17/8) memancing reaksi publik. Pasalnya, isinya terdapat buku istri dan putera sulung Presiden SBY Agus Harimurti Yudhoyono. Bagaimana pakar komunikasi politik menilainya?
Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Wisnu Martha Adiputra menilai apa yang dilakukan Presiden SBY dengan membagi-bagi souvenir kepada tamu undangan dalam ranka HUT RI di Istana Merdeka merupakan langkah yang tak patut.
Ini jelas-jelas tidak pantas dilakukan. Harusnya kalau mau bagi-bagi buku ya misalnya tentang kemajuan Indonesia, posisi Indonesia dimana dalam konteks ke-Indonesiaan. Nah, ini buku milik keluarga, cetusnya kepada wartawan INILAH.COM R Ferdian Andi R di Yogyakarta melalui saluran telepon dari Jakarta, Rabu (18/8).
Berikut wawancara lengkapnya:
Apa komentar Anda atas aksi bagi-bagi souvenir buku istri dan anak Presiden SBY di momentum HUT RI?
Agak aneh dengan presiden kita ini. Sebenarnya acara 17-an menjadi momentum kenegaraan sehingga semestinya dihindari betul hal-hal personal termasuk keluarga. Ini jelas-jelas tidak pantas dilakukan. Harusnya kalau mau bagi-bagi buku misalnya tentang kemajuan Indonesia, posisi Indonesia, pokoknya dalam konteks ke- Indonesiaan.
Nah, ini buku milik keluarga, pasti itu jauh sekali. Presiden mengatasnamakan partainya saja kebangetan apalagi keluarganya seperti istri dan anaknya. Buku adalah media yang di-share ke publik, dicatat banyak orang, tetapi kalau buku untuk dibagi-bagi cenderung proyek narsitis, ini tidak pas.
Kalau itu disebar di luar tidak ada masalah. Tapi kalau dibagikan dalam momentum kenegaraan di Hari Kemerdekaan jelas melanggar etika dan tata krama.
Apakah Presiden SBY tergelincir di momentum HUT RI ini, karena sebelumnya, Presiden terkenal cukup hati-hati memisahkan acara partai dan kenegaraan termasuk keluarga?
Ini menambah catatan buruk pemerintahan sekarang. Saya melihat respon kelompok lain sangat negatif bahkan ada yang menyebut apa yang dilakukan Presiden SBY merupakan bagian dari politik pencitraan. Ini akan direcord terus, saya rasa bukan mengkampanyekan partainya tapi keluarganya. Kita tidak tahu apa ada motif. Ini SBY tergelincir. [mdr]