Kamis, 24 Mei 2012 | 05:14 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Setitik Nila di Saham BUMI
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Asteria&Ahmad Munjin
web - Senin, 12 Januari 2009 | 05:58 WIB
INILAH.COM, Jakarta Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Ungkapan ini tepat menggambarkan kondisi saham PT Bumi Resources (BUMI) yang anjlok akibat rencana akuisisinya. Analis memberi rekomendasi negatif, investor pun marak melakukan aksi jual.
Pada perdagangan pekan lalu, emiten batubara ini turun drastis dan mencatatkan auto rejection batas bawah sebanyak empat kali. Alhasil, harga saham BUMI langsung anjlok 32,9% ke level Rp 630 sejak dibuka di 2009 di posisi Rp 940 per lembarnya. Ini adalah angka terendah BUMI sejak 2004.
Anjloknya saham BUMI tak lepas dari sentimen negatif menyusul rencana akuisisi perseroan terhadap tiga perusahaan. Yaitu membeli secara tidak langsung 44% saham PT Darma Henwa (DEWA IJ) dengan mengambil alih 80% saham di Zurich Assets International Ltd yang menguasai 55% saham DEWA.
Kemudian 76,9% saham Leaf Forward Finance Ltd yang memiliki secara tidak langsung 98,5% saham PT Fajar Bumi Sakti (FBS) dan terakhir mengakuisisi 84% saham PT Pendopo Energi Batubara (PEB).
Ibarat nila setitik yakni aksi akuisisi agresif yang dilakukan BUMI malah mengaburkan fundamental perusahaan yang sebenarnya sangat baik. Betrand Raynaldi, analis dari Panca Global Securities mengatakan, akuisisi yang dilakukan BUMI baru-baru ini akan berpotensi meningkatkan risiko neraca keuangan perseroan.
Pasalnya, dengan dana yang besar untuk akuisisi yang tidak perlu, utang BUMI otomatis bertambah banyak. "Karena risikonya tinggi, maka fundamental perusahaan akan terpengaruh dan semakin buruk," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta kemarin.
Padahal, lanjutnya, saham BUMI dari sisi fundamental sebelumnya masih menarik, terutama dengan valuasi yang rendah dibandingkan emiten lainnya. Perusahaan tambang terbesar di Indonesia dan nomor dua di dunia berdasarkan kapasitas produksi ini pun bagaikan madu yang diincar berbagai investor asing dan lokal dari tangan Bakrie and Brothers (BNBR).
Salah satunya ialah PT Indonesia Heavy Equipment (IHE) yang menyatakan akan terus meningkatkan kepemilikan di BUMI hingga 45% dan telah menyiapkan dana Rp 12 Trilyun. IHE saat ini sudah mempunyai 5% saham BUMI melalui mekanisme pasar. Hal ini menandakan prospek saham BUMI yang menjanjkan.
Sementara kenaikan harga minyak mentah dunia yang diprediksi mencapai US$ 50 per barel dan tingginya kebutuhan batubara untuk proyek pembangkit listrik pemerintah pun membawa sentimen positif bagi sektor batubara.
Karena permintaan akan sumber energi ini diyakini akan meningkat berlanjut pada tingginya harga jual komoditas ini. "Kalau dilihat dari sisi fundamental, saham BUMI sebenarnya bagus dan murah," ulasnya.
Namun, tutur Bertrand, akibat benturan kepentingan dari induk usaha, yaitu BNBR, kekokohan fundamental saham BUMI diragukan. Investor melihat dalam akuisisi ini, BUMI adalah pihak yang dirugikan.
Pasalnya, selain 'dipaksa' berutang dengan risiko memburuknya fundamental, tidak ada peningkatan nilai bagi BUMI dari ambil alih saham ini. Apalagi, saham yang diakuisisi ini disinyalir berafiliasi dengan grup Bakrie. "Di pasar banyak investor menjatuhkan hukuman ke BUMI atas transaksinya kemarin. Makanya kita lihat auto rejection berkali-kali," terangnya.
Analis Panin Sekuritas Arif Sagita mengungkapkan hal senada dengan menyayangkan langkah akuisisi BUMI. Menurutnya, sentimen untuk batubara ke depan akan cenderung naik terbatas, meskipun harga minyak mentah tidak sefluktuatif semester kedua 2008.
Apalagi kontrak permintaan batubara jangka panjang masih dalam volume masif, dengan harga batubara mencapai US$ 60 per ton. "Harga ini cukup tinggi dan dapat menghasilkan keuntungan bagi perusahaan batubara," katanya.
Ia pun merekomendasikan beberapa saham batubara seperti PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) dan PTBA. Tapi secara khusus meminta investor menghindari saham BUMI.
Arif masih skeptis dengan aksi korporasi BUMI yang menurutnya tidak memprioritaskan keuntungan dalam bentuk dividen, namun malah ekspansi terlalu agresif di tengah situasi perlambatan ekonomi. "Seharusnya BUMI melakukan efisiensi dan memanfaatkan laba ditahan dengan membagikan dividen untuk memperbaiki citranya," ulasnya.
Sementara pembelian kembali (buy back) saham BUMI belum akan terealisasi di awal tahun ini. Hal ini mengingat belum ada pembicaraan lebih lanjut antara perseroan dengan Recapital Advisors, sebagai broker pelaksana transaksi tersebut.
"Kita belum terima duitnya. Setelah itu ada beberapa surat-surat yang harus disiapkan. Tapi, sampai saat ini belum ada konfirmasi dari BUMI," ujar Head Research Recapital Securities Poltak Hotradero.
Menurutnya, hambatan itu muncul terkait aksi korporasi perseroan, sehingga belum fokus terhadap proses buyback yang sebelumnya direncanakan terlaksana awal Desember 2008.
Sebelumnya, pembelian kembali saham BUMI akan dilakukan 3.298.680.000 atau 17% dari seluruh jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh, dengan total dana yang disiapkan Rp 8,24 triliun. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.