Selasa, 29 Mei 2012 | 04:16 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sofjan Wanandi
Bulan Depan Harga Barang Turun
Headline
Sofyan Wanandi - inilah.com
Oleh: Ahmad Munjin
web - Rabu, 14 Januari 2009 | 01:24 WIB
INILAH.COM, Jakarta Penurunan kembali harga BBM, diprediksikan dapat memangkas harga barang-barang produksi 5-10%. Para pelaku industri saat ini ditengarai sedang merevisi ulang target produksi, pedapatan, dan harga jual masing-masing.

Sofjan Wanandi Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan para pengusaha saat ini sedang melakukan kalkulasi terkait besaran penurunan harga barang-barang mereka menyusul turunnya harga Baham Bakar Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL).

"Penurunan baru terjadi bulan depan karena hitung-hitungannya bulan ini. Tapi kalau persuasif baik-baik, mungkin industri akan menurunkan di kisaran 5 hingga 10%," katanya kepada INILAH.COM di Jakarta, Selasa (13/1).

Harga BBM bersubsidi jenis premium turun Rp 500 menjadi Rp 4.500 per liter (turun 25%). Sementara solar turun menjadi Rp 4.500 per liter (18,2%). Harga baru ini mulai berlaku sejak 15 Januari 2009. Penurunan BBM, diikuti dengan penurunan TDL untuk industri sebesar rata-rata 8,5% hingga 15% pada beban puncak.

Berikut ini petikan lengkap wawancaranya.

Pemerintah menurunkan kembali harga BBM, apakah signifikan dampaknya bagi pengusaha?
Manfaat penurunan harga premium lebih banyak dirasakan masyarakat, karena ongkosnya akan berkurang, sehingga masyarakat bisa beli barang kita. Sedangkan solar tidak terlalu banyak efeknya terhadap industri, kecuali dari sisi transportasi. Namun tentu lebih banyak pengusaha, baik kecil menengah dan lainnya yang merasakan penurunan harga tarif dasar listrik. Kalau TDL, langsung kita yang diuntungkan.

Dari kalangan pengusaha, apakah akan ada penurunan harga jual?
Kita bisa turunkan harga barang, tapi tidak bisa semua sektor barang turun, harus dilihat per sektor. Artinya penurunan itu dihitung setelah tahu industri dan turunan mana yang bisa turun. Baru berapa penurunan yang kita mau. Penurunan juga baru terjadi bulan depan karena hitung-hitungannya bulan ini. Tapi kalau persuasif baik-baik, mungkin industri akan menurunkan di kisaran 5 hingga 10%, meskipun hal itu tergantung pada sektor-sektornya.
Penurunan BBM bukan satu-satunya faktor yang membuat harga turun sehingga tidak bisa dikatakan penurunan BBM signifikan menurunkan harga barang. Penurunan TDL misalnya, harus dihitung, karena yang semula 4 kali bayar maksimum pemakaian atau multiguna, sekarang tiga kali. Jadi berapa efeknya mesti menunggu penjelasan PLN baru dihitung.

Apa saja kendala penurunan harga dari pengusaha?
Halangannya itu faktor cost dalam produksi, bukan hanya BBM atau listrik. Tapi ada cost lain yang dilihat. Misalkan pelemahan rupiah, karena kita masih ada import content yang cukup tinggi. Kalau angkutan barang industri sangat tergantung pada Organda berapa banyak mereka bisa turunkan. Saya harapkan tarif angkutan barang bisa diturunkan minimal 5 hingga 10%. karena itu untuk transportation company. Tapi kita lihat, mau tidak mereka turunkan. Organda kasih alasan spare part naik, jalan-jalan rusak, tujuan yang dicapai lebih lama, mahal ongkosnya. Melemahnya nilai tukar juga menyebabkan mereka membeli spare part dengan harga tinggi. Tapi kalau transportasi bisa turun, spare part juga bisa turun. Karena penurunan BBM menyangkut semua unsur produksi.
Tapi alasan ini dalam negoisasi merupakan hal biasa. Segala macam alasan dikemukan supaya turunnya tidak drastis dan mereka tidak dirugikan. Intinya sekarang kita tidak bisa apa-apa sebelum pemerintah dan Organda melakukan negosasi. Saya pikir pembicaraan sudah jalan terus, kita juga sudah melakukannya dengan perusahaan transportasi masing-masing.

Sering ada keluhan, meski harga BBM turun, tapi pengusaha masih menahan harga, apa pendapat anda?
Saya pikir sebelum tahun baru Imlek, mereka tidak akan menurunkan harga barang mereka. Bulan depan baru diturunkan kalau mereka mau. Kita pastinya mau turunkan harag agar bisa bersaing ketat dan bisa merebut pasar lebih baik. Tapi kan sampai berapa jauh bisa itu semua perlu perhitungan yang matang. Sekarang ini, asal jangan merugi, apapun akan dikerjakan pengusaha untuk merebut pasar. Dan itu butuh waktu untuk kalkulasi. Semua kepastian itu baru terjadi besok tanggal 15 Januari.
Setiap sektor akan berbeda, tapi pasti mereka mengadakan revisi. Karena kita harus bersaing dengan barang-barang impor. Kalau harga diturunkan, kita dapat merebut pasar dalam negeri. Kalau ada pasarnya, maka produksi akan ditingkatkan lagi. Sekarang kita masih menunggu kondisi pasarnya. Pasalnya saat ini pasar domestik maupun luar negeri sangat lemah sehingga harus dihitung agar tidak terjadi over capacity. (E2)
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.