inovasi portal berita
Kamis, 9 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,988.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Demokrat Pamer Jasa Turunkan BBM

Oleh:
Rabu, 14 Januari 2009 | 06:09 WIB
Penurunan harga BBM akhir-akhir ini memang membawa kabar gembira bagi masyarakat kita yang tengah terhimpit kesulitan ekonomi. Yach paling tidak, yang tadinya uang Rp 10.000 tak dapat membeli 2 liter bensin, kini jumlah tersebut sudah bisa untuk membeli 2 liter bahkan lebih sedikit.

Seperti kita tahu bersama, bahwa penurunan harga BBM terjadi setidaknya 3 tahap. Dan penurunan terakhir, kabarnya akan start tanggal 15 Januari 2008. Wah, secara politik, ini sebuah prestasi pemerintah yang telah berhasil meringankan beban warga dalam mengakses BBM.

Namun, diam-diam (tapi pasti) ada perspektif lain yang juga menarik untuk dikaji atas turunnya BBM ini. Ialah aksi pamer jasa, pengaruh, pamor atau apalah namanya oleh Partai Demokratyang jadi partai pemerintah saat ini.

Kenapa demikian? Saya yakin Anda semua para pembaca bisa melakukan prediksi atau analisis kecil-kecilan. Pertama, sejak akhir tahun 2008, kita tahun harga minyak dunia menurun drastis. Ini akan menjadi logika bagi turunnya harga minyak dalam negeri.

Kedua, SBY kebetulan cepat tanggap dengan kabar ini, sehingga tokoh Demokrat ini lantas ambil simpati rakyat dengan isu penurunan harga BBM. Meski adegan penurunan itu dilakukan bertahap, namun diakui atau tidak, rakyat dalam beberapa hal cukup merasakan dampak penurunan ini. Memang, dalam beberapa hal juga belum terjadi penurunan harga kebutuhan pokok serta tarif angkutan umum.

Ketiga, (ini yang saya duga kuat) isu BBM akan jadi umpan empuk untuk menggaet simpati rakyat, agar mau jatuh hati pada partai Partai Pemerintah. Indikasi rebutan pamor semakin terlihat nyata manakala komentar salah satu petinggi Demokrat Ahmad Mubarok meluncur di media.

"Kita mendukung kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM ketiga kali seperti saat ini. Kita memang mencampuri soal kebijakan itu, tapi tidak secara detail," kata Waketum PD Achmad Mubarok kepada INILAH.COM di Jakarta, Selasa (13/1).

Mubarok menambahkan bahwa Ia ikut campur tangan dalam hal kebijakan turunnya harga BBM. Wah, jelas ini sebuah strategi komunikasi politik yang cukup efektif untuk menaikkan citra partai (pemerintah) di tengah gencarnya bisnis periklanan politik meraih citra. Dan Partai SBY ini jelas-jelas telah memainkannya.

Namun mari sejenak kita lihat secara jeli, bahwa sejatinya, yang berperan dalam hal penurunan harga minyak ini adalah Pemerintah yang secara kolektif dipegang oleh aktor-aktor dari beragam latar belakang politik. Di sana ada Wapres, menteri ESDM, ada menteri Keuangan dan lainnya. Jadi banyak pihak yang ikut berperan dalam hal ini.

Namun, jika ada orang tiba-tiba ngomong. "Kita memang mencampuri soal kebijakan itu, " hmm apa pendapat anda? Apakah ini bukan klaim? Atau yang lebih halus lagi "Sok berjasa"? Meski di belakang layer memang benar orang (partai) ini berperan dalam membentuk kebijakan turun BBM, namun menurut saya ini adalah sebuah pembodohan politik. Kalau banyak orang yang berperan dalam kebijakan penurunan harga BBM, kenapa kemudian diklaim hanya milik satu orang, golongan dan partai. Wah, sekali lagi saya bilang ini pembodohan bung.

Kenapa tidak membiarkan rakyat yang menilai dan membandingkan? Kenapa tidak biarkan sebuah kerja-kerja politik berjalan lebih santun, arif dan mencerdaskan? Apakah karena ada ketakutan, bila rakyat kita itu akan jatuh hati ke pilihan lain? Saya kira tidak, jika memang partai politik itu mempunya sense yang tinggi terhadap penyejahteraan rakyat, maka dengan sendirinya rakyat akan berbondong-bondong meninggalkan aktifitas kerjanya untuk memilih wakilnya di pemerintahan. Ya kan?

Namun jika yang dilakukan adalah aksi 'pamer jasa' bahwa yang telah berjasa menurunkan harga minyak adalah IA, bukan mereka, maka rakyatlah yang akan menjadi hakim pemutus: apakah partai ini bener-bener tulus membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat atau hanya sejenak meraih isu liar minya dunia yang turun menjadi bola-bola politik. Anda pasti bisa menilainya.

Wiwit R Fatkhurrahman (Peneliti di INCEIS)
wiwit.fatur@gmail.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.