inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Sitegang Telanjang Bulan Bintang

Headline
Yusril Ihza Mahendra-MS Kaban - inilah.com/ Raya Abdullah
Oleh: Herdi Sahrasad
Jumat, 16 Januari 2009 | 14:29 WIB
INILAH.COM, Jakarta Benarkah elite politik hanya berebut kuasa dan tak peduli rakyat? Kasus Partai Bulan Bintang (PBB), sebuah partai gurem, secara telanjang membuktikannya. Dua petinggi partai, MS Kaban dan Yusril Ihza Mahendra bersitegang.
Kaban, Menteri Kehutanan di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), bersikeras mendukung Susilo Bambang Yudhoyono, calon incumbent yang didorong Partai Demokrat. Sedangkan Yusril, mantan Menteri Sekretaris Negara ngotot mau maju sebagai capres pemilu 2009.
Wacana kuasa itulah yang mendominasi PBB saat ini. Mereka, sementara, mengabaikan pergulatan mencari visi-misi dan program yang nyata bagi konstituennya.
Apa yang terjadi di PBB sebenarnya juga melanda parpol lain. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga dilanda keretakan elitenya. Ini gara-gara Bachtiar Chamsyah dan Suryadharma Ali pecah akibat beda kepentingan. Konflik kepentingan itu pulalah yang membelah PBB.
Mudah bagi publik untuk melihat perpecahan di tubuh PBB itu. Ketua Umum PBB MS Kaban sudah menyatakan akan kembali mendukung SBY di Pilpres 2009. Namun, Ketua Majelis Syuro PBB Yusril Ihza Mahendra tetap ngotot untuk menjadi capres dari partai yang didirikannya itu.
"Saya akan tetap jadi capres dari PBB. Yang jelas, pernyataan itu (Kaban) bukan merupakan pernyataan politik PBB," kata Yusril Ihza, Jumat.
Awalnya Yusril enggan menanggapi pernyataan Kaban itu. Menurutnya, pernyataan Menhut itu tidak memiliki dasar karena bukan merupakan sikap politik partai secara institusi.
Ketika Kamis (15/1) di Yogyakarta, Kaban menyatakan akan tetap mendukung SBY yang dinilainya sosok yang berprestasi, Yusril pun bereaksi. Yusril menegaskan proses penjajakan politik terus dilakukan PBB untuk menentukan capres di 2009.
Namun demikian, meski sudah memiliki Yusril, PBB kubu Kaban menyatakan masih membuka kemungkinan untuk mendukung pasangan SBY-JK lagi. Jadi, di antara dua kubu itu, tampak perbedaan kepentingan itu sudah diametral.
Kubu Kaban tak henti bermanuver. Dalam menunjukkan dukungan untuk SBY-JK, Wakil Sekretaris Majelis Syuro PBB Bambang Setio bersama jajaran pengurus Majelis Syuro PBB sudah mendatangi Istana Wapres, Selasa lalu. Silaturahim itu merupakan proses penjajakan untuk kembali mendukung pasangan SBY-JK pada Pilpres 2009.
Menanggapi tekad Yusril, Sekretaris Majelis Syuro Partai Bulan Bintang Fuad Anshary menegaskan, pihaknya hingga kini belum memutuskan capres-wapres PBB. Keputusan untuk itu menjadi kewenangan majelis syuro PBB.
"Pasti itu akan dibuat suatu rapat yang dipimpin oleh Pak Yusril untuk menentukan siapa capres dan cawapres yang didukung oleh Partai Bulan Bintang. Tapi tidak sekarang waktunya," kata Fuad.
Alhasil, tarik-menarik kepentingan untuk berebut kuasa masih menggelayuti kubu Yusril Ihza dan Kaban dalam waktu dekat. Para analis politik dan berbagai lembaga survei memprediksi, hampir pasti kursi parlemen PBB bakal merosot dan merosot, sehingga kemungkinan kubu Kaban yang dominan di PBB ketimbang kubu Yusril, bisa saja terjadi.
Kedua kubu telah berebut loket kekuasaan, amat pragmatis, dan tak jelas mau dibawa kemana konstituen mereka. "Itulah sebabnya, para politisi Islam berdosa dua kali. Pertama, mengkhianati agama. Kedua, mengkhianati umatnya," kata Fadli Zon, mantan politisi PBB yang kini Wakil ketua Umum Partai Gerindra. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.