inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Jangan Ajak Rakyat Golput!

Oleh:
Jumat, 16 Januari 2009 | 15:02 WIB
Ada orang yang menyuruh kita semua golput dengan argumentasi demokrasi haram, tidak ada dalil, dan harus ada sistem kekhalifaan yang menggantikandemokrasi. Mungkin ada yang anggap demokrasi itu berasal dari Amerika, padahal akar demokrasi ada di bangsa Yunani ribuan tahun yang lalu.

Demokrasi yang paling tua sekarang ini adalah di Inggris, di mana, pada beberapa ratus tahun yang lalu, Raja (sebagai penguasa mutlak) melepaskan kekuasaan secara bertahap dan izinkan rakyat membentuk parlemen dan pemerintah, dan menciptakan hukum negara yang harus dituruti semua.

Tindakan itu, secara pelan, menghasilkan sistem demokrasi yang kita kenal sekarang dan menjadi lebih lengkap di negara baru seperti Amerika, yang lepaskan diri dari kekuasaan seorang raja dan membentuk posisi presiden.

Mungkin ada yang anggap dari komentar saya bahwa saya menentang semua argumentasi untuk khalifa dan hukum syariah. Tetapi sebenarnya, saya lebih terfokus pada perlawanan terhadap sikap golput yang saya nilai sangat negatif untuk masa depan negara ini. Argumentasi saya bukan pendapat emosional (atau anti-Islam) tetapi argumentasi saya insya Allah hanya sebuah pendapat yang logis saja.

Coba berfikir seperti ini: Bayangkan ada dua partai saja di Indonesia, partai A dan B. Dari pengalaman, terbukti partai A penuh dengan koruptor, dan siap mendukung diktator, asal mereka dan para kroninya bisa kaya raya. Kehidupan masyarakat tidak dipedulikan selama para penguasa bisa kaya.

Kemudian, ada partai B. Dari pengalaman, partai ini punya banyak anggota yang insya Allah beriman dengan baik, jujur, adil, bijaksana, profesional dan mereka siap membentuk pemerintahan yang bersih demi kepentingan rakyat. (Partai B juga disebut 'partai Islam).

Di Indonesia ada sekitar 150 juta pemilih. Lalu orang yang ingin menentang demokrasi datang dan mengatakan "Demokrasi haram. Tidak ada dalil. Golput saja!" Setelah itu, 100 juta orang nurut dan menjadi golput. Laly50 juta orang yang tersisa dibujuk dengan sembako untuk pilih partai A, partai koruptor.

Setelah partai A menang, uang negara kembali dirampas, orang kuat kembali berkuasa, pelanggaran HAM mulai terjadi di mana-mana, orang miskin tidak punya hak lagi, dan rakyat hidup dalam kesulitan.

Saat 100 juta orang yang golput itu merasa menderita lagi, mungkin mereka akan mengeluh kepada orang yang menyuruh mereka semua golput. Kalau keadaan seperti itu muncul, orang yang mendukung sikap golput akan berani katakan apa? Kalau saya lihat, hanya ada 2 jawaban yang wajar dari mereka (para pendukung golput).

Yang pertama, mungkin mereka akan mengatakan, "Kami bertanggung jawab. Kami salah menyuruh golput. Anak yatim dan orang miskin sudah banyak yang mati kelaparan karena kami menyuruh golput, dan oleh karena itu, partai koruptor menjadi berkuasa. Ini semua kesalahan kami yang menyuruh golput. Kami mohon maaf. Seharusnya kami izinkan kalian semua (orang yang beriman) memilih partai yg paling baik dan bersih dari pilihan yang ada."

Atau sebaliknya, mungkin yang menyuruh golput akan mengatakan, "Ini bukan kesalahan kami. Memang benar kami suruh golput, dan oleh karena itu 100 juta orang yang beriman menjadi golput semua. Sekarang, para koruptor kembali berkuasa. Sementara KPK mungkin sudah dibubarkan. Para penguasa yang zalim kembali merampas hak masyarakat, dan banyak anak yatim serta orang miskin hidup dalam kesulitan dan bahkan ada banyak yang mati kelaparan. Tetapi jangan suruh kami bertanggung jawab. Ini bukan kesalahan kami. Kami pengen punya khalifa saja. Kok belum ada ya?"

Artinya, setelah partai para koruptor berhasil mendapatkan kekuasaan (dengan cara apapun) dan negara menjadi lebih buruk, orang yang sebelumnya menyuruh golput mau katakan apa? Apakah mereka akan merasa bertanggung jawab atas kematian setiap anak miskin yang tidak bisa mendapatkan nafkah hidup dari pemerintah karena uang rakyat dikorupsi terus? Atau apakah pendukung golput
akan merasa tidak merasa bertanggung jawab, dan tidak peduli pada keadaan masyarakat yang terwujud setelah 100 juta orang beriman menjadi golput, yang secara langsung memberikan kekuasaan pada partai koruptor?

Menurut saya, ini sebuah argumentasi logis di mana kita punya dua pilihan yang jelas di depan mata. Kita bisa mendukung partai yang bersih, atau kita bias abaikan hak memilih kita dan biarkan orang lain merampas kekuasaan. Kalau ada orang yang mau menyuruh kita semua golput, seharusnya mereka siap bertanggung jawab terhadap hasilnya nanti pada saat anak miskin tidak bisa hidup dan uang rakyat dihabiskan untuk kepentingan penguasa yang korup.

Jangan menyuruh golput, tetapi menyuruh semua orang untuk memilih partai yang paling bersih, paling penuh dengan orang yang beragama dengan baik, orang yang paling jujur, adil, bijaksana, mulia, baik hati, sabar, dan seterusnya.

Ina, ina.forum@gmail.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.