INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (27/8) Rupiah dibuka di kisaran 8.985-8.990 atau menguat enam poin dibandingkan penutupan kemarin di kisaran 8.991.
Analis valas Bank Rakyat Indonesia Rahadyo Anggoro mengatakan, rupiah hari ini cenderung bergerak stabil. Sentimen regional yang mempengaruhi rupiah yaitu pengumuman data penjualan rumah Amerika Serikat (AS) dan durable goods lebih buruk dari ekspektasi pelaku pasar. Hal itu menunjukkan ekonomi global masih belum pulih. "Pelaku pasar cenderung memegang safe heaven currency yaitu mata uang dolar AS, hal tersebut cukup mempengaruhi rupiah," ujar Rahadyo, saat dihubungi INILAH.COM, Jumat (27/8).
Rahadyo menuturkan, iklim investasi di Indonesia relatif baik masih menjadi daya tarik investor untuk berinvestasi di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dari penempatan dana di surat utang negara (SUN) sebesar Rp177,4 triliun. Selain itu, pernyataan Menteri Keuangan Agus Martowardojo akan mengeluarkan samurai bond pada November 2010. "Rencana pemerintah yang akan menerbitkan samurai bond tapi tidak diikuti sukuk global akan membuat pengaruh rupiah terhadap dolar AS," kata Rahadyo.
Pelaku pasar juga menunggu data inflasi Jerman, GDP Inggris dan Amerika Serikat. Rahadyo mengatakan, ketiga data tersebut diprediksi akan mengalami penurunan sehingga pelaku pasar beralih ke mata uang dolar AS sebagai safe heaven. Rahadyo meramal, rupiah akan berada di kisaran 8.975-9.000. " Bank Indonesia akan menjaga kestabilan rupiah di level 8.975-9.000," tutur Rahadyo. [cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !