INILAH.COM, Jakarta - Perusahaan pengelolaan serat sintetis, PT Polysindo Eka Perkasa Tbk, memproyeksikan pendapatan per 2008 senilai Rp 3,4 triliun. Namun, laba bersih belum bisa dicapai karena depresiasi dan selisih kurs.
Menurut Sekretaris Perusahaan Polysindo Tunaryo, kontribusi pendapatan berasal dari produksi di pabrik Karawang yang utilisasinya telah mencapai 90% dan pabrik di Semarang.
Namun, jelas Tunaryo, laba bersih belum bisa dicapai karena depresiasi dan selisih kurs.
Perseroan masih harus menghadapi ancaman kerugian selisih kurs yang akan menggerus capaian pendapatan itu secara signifikan.
Hingga saat ini perseroan telah meningkatkan utilisasi pabrik serat sintetis di Karawang melampaui 90% pada tahun lalu. Namun, pabrik di Semarang utilisasinya berkisar 65% karena mesin unit produksi pertama dan kedua belum diperbarui.
Perseroan mengharapkan restrukturisasi utang senilai US$ 1 miliar bisa diselesaikan tahun ini dengan keluarnya keputusan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) yang menangani proses tersebut.
Pada Juli nanti diharapkan sudah ada skema restrukturisasi yang jelas, dari beberapa opsi yang disiapkan. Beberapa opsi tersebut di antaranya adalah pengambilalihan utang oleh investor lain, atau eksekusi aset-aset yang menjadi jaminan.
Saat ini terdapat dua kelompok kreditor, yakni PPA selaku wakil pemerintah yang memegang 23% utang Polysindo, sedangkan para pemegang obligasi memiliki sekitar 70% sisanya.
Utang yang dipegang PPA menggunakan pabrik Polysindo di Karawang sebagai jaminan, sedangkan utang dari investor pemegang obligasi menggunakan jaminan pabrik di Karawang.
Per 30 September 2008, perseroan membukukan penjualan bersih Rp 3,04 triliun, dengan mencatatkan rugi bersih Rp 402,56 miliar. Total aset sebesar Rp 5,24 triliun dengan kewajiban Rp 12,72 triliun, sehingga ada defisit modal sekitar Rp 7,5 triliun. [tra]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !