Minggu, 27 Mei 2012 | 19:48 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Muasal Barongsai dari Keresahan Petani
Headline
inilah.com/ Wirasatria
Oleh: Yayat Cipasang
web - Senin, 26 Januari 2009 | 17:31 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Atraksi Barongsai kini menjadi suguhan utama dalam kemeriahan Imlek. Atraksi akrobatik yang sangat menegangkan ini menjadi tontotan yang tidak hanya disaksikan anak-anak, tetapi juga orang dewasa.

Pada masa Orde Baru karena alasan politis, atraksi ini hanya bisa ditonton atau dipentaskan secara terbatas sambil sembunyi-sembunyi. Kini era itu telah lewat dan Barongsai pun bebas dipentaskan di mana saja.

Tetapi hanya sedikit yang tahu termasuk di kalangan keturunan China sekalipun. Apa yang melatarbelakingi lahirnya Barongsai?

Seperti ditulis Suwitno Johan dalam blog kumunitas China Tionghoanet, di zaman sebelum Masehi, di mana ada sebuah desa kecil di tengah pengunungan di daerah China. Terdapat penduduk yang sehari-hari bekerja sebagai petani.

Akan tetapi sangat disayangkan, hampir setiap musim dingin, ada binatang yang selalu datang menganggu petani. Ada yang hanya merusak tetapi ada juga yang menyerang manusia. Binatang itu dikenal dengan sebutan Niang.

Dan di awal musim dingin ini, setiap keluarga berkumpul untuk makan malam bersama yang disebut dengan Hui Lou, yaitu makan masakan yang berkuah dengan api di tengah atau yang sekarang lebih kita kenal dari Jepang dengan shabu-shabu.
Peristiwa inilah yang sering dilakukan oleh keluarga-keluarga China yang mengharuskan anaknya untuk pulang makan di malam sebelum Imlek. Tujuan dari ini adalah untuk menakutkan-nakuti Niang, di samping berkumpul bersama untuk saling melindungi.

Tahun lewat tahun, hingga para petani menemukan ide membuat binatang tandingan yang palsu untuk menakutkan Niang. Hingga terbentuknya binatang Liong dan Sir Ce (Singa). Di mana setiap menjelang musim dingin, penduduk setempat memainkan kedua binatang tersebut dengan bola api yang menjadi sasaran dikejar. Agar Niang melihatnya dan takut.

Hingga akhirnya, Niang tidak datang lagi ke desa-desa dan peristiwa ini menjadi turun temurun hingga hari ini. Dan kita menyembutnya sebagai kou Niang, yakni Niang yang lewat. Perayaaan para petani itulah yang akhirnya menjelma menjadi atraksi barongsai yang kita kenal saat ini. [L1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.