Senin, 28 Mei 2012 | 14:13 WIB
Follow Us: Facebook twitter
JK: Fatwa MUI Harus Konsisten
Headline
Jusuf Kalla - inilah.com/ Bayu Suta
Oleh:
web - Sabtu, 24 Januari 2009 | 19:24 WIB
INILAH.COM, Padang - Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta ulama MUI mengeluarkan fatwa yang mempertimbangkan nilai tambah ekonomi, bukan sekedar memberi solusi. MUI juga harus konsisten dengan fatwanya.

"Dalam ijtima' berilah hal-hal positif, bukan hanya solusi dan perlu melihat nilai tambah ekonomi," kata JK saat membuka Ijtima' Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia III di Padang Panjang, Sumbar, Sabtu (24/1).

Umat Islam Indonesia, lanjut JK, selalu bangga dengan menjadi muslim yang moderat, yang berarti selalu mengambil jalan tengah dan mengutamakan kesamaan daripada perbedaan. Umat Islam Asia Tenggara dibawa oleh pedagang sehingga selalu moderat dan mengembangkan kemandirian.

Pengusaha tersebut, ujarnya, kemudian membayar zakat yang sangat bermanfaat bagi umat, sehingga perlu ada dorongan kepada pengusaha. "Pengusaha non muslim bayar pajak tetapi tidak berzakat."

Wapres juga menyatakan yakin, pertemuan ulama berbeda dengan pertemuan ahli hukum yang pandangannya selalu berbeda, karena jika ada 800 ulama hanya punya satu pandangan.

"Hari ini ulama akan memberi petunjuknya. Kalau halal-haram sudah jelas di Quran. Tapi teknologi berkembang, haji sekarang dengan pesawat. Dulu di Saudi foto haram sekarang tidak lagi. TV haram, sekarang ceramah bagaimana kalau tak ada TV," katanya.

Di bagian lain, JK berharap MUI konsisten dengan fatwanya, misalnya jika bunga haram maka gunakanlah bank syariah untuk setiap kegiatan ekonomi.

Ijtima' Ulama Komisi Fatwa yang diselenggarakan pada 24-26 Januari dan dihadiri oleh Menag Maftuh Basyuni itu akan membahas dan mengeluarkan fatwa tentang rokok, pernikahan dini hingga golput dalam Pemilu.

Wapres dalam kesempatan itu juga menyebutkan perbedaan antara bangsa Arab dan Indonesia adalah bangsa Arab hampir semua agamanya sama, budaya sama, warna kulit sama dan bahasa sama tetapi terdiri dari 16 negara.

"Sedangkan bangsa Indonesia terdiri dari beragam budaya, 300 bahasa, bermacam-macam warna kulit, namun satu bangsa. Ini berarti kita diberi kenikmatan," pungkasnya.[*/dil]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.