inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Gawat, Tak Ada Antisipasi SMS Penipuan

Headline
IST
Oleh: Billy A Banggawan
Rabu, 1 September 2010 | 09:51 WIB
INILAH.COM, Jakarta SMS penipuan bertajuk mama minta pulsa beredar luas di masyarakat. Namun regulator tak melakukan antisipasi. Masyarakat hanya dihimbau untuk hati-hati.
Ketua Umum Indonesian Telecommunication User Grup (IDTUG) Nurul Yakin Setiabudi menilai meskipun belum ada yang melaporkan mengalami kerugian akibat peredaran SMS penipuan semacam mama minta pulsa, tapi operator seharusnya sudah melakukan antisipasi.
Fasilitas operator telah dimanfaatkan, seharusnya ada filtering. Jika satu SMS dikirim ke banyak orang, pasti itu ada sesuatu, katanya di Jakarta, kemarin. Ia menilai untuk mengantipasi korban akibat SMS tipuan, harusnya ada traffic center menyangkut kerugian pelanggan.
Operator harus menyediakan call center khusus jika ada pelanggan yang mengalami penipuan semacam itu. Walaupun tidak secara khusus, seharusnya masing-masing operator itu responsif akan kejadian-kejadian semacam ini. Mekanisme pelaporan kan banyak bisa lewat email, atau call center, tandasnya.
Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menampik lembaganya kurang aktif dalam melakukan pencegahan SMS penipuan. Heru menyatakan penipuan bukan domain BRTI karena tugas lembaganya adalah di bidang telekomunikasi.
Sementara penipuan SMS hanya memanfaatkan media telekomunikasi sebagai sarana kejahatan dan harus ada pembuktian. Tapi kami tetap peduli, takutnya ini menjadi masalah, mewabah. Jadi kita bikin himbauan pada masyarakat untuk berhati-hati, ujung-ujungnya masyarakat sendiri yang harus berhati-hati, imbuhnya.
Heru menyatakan BRTI telah memberitahukan pada masyarakat, jika mendapatkan nomor penipuan dan telah tertipu untuk membuat laporan ke polisi. Setelah itu minta operator memblokir nomor tersebut.
Kalau betul penipuan, bisa disampaikan ke operator agar ditindaklanjuti, seperti sekarang kami sedang mengumpulkan nomor-nomor itu, katanya.
Heru menilai solusi yang bisa dilakukan untuk mencegah penipuan itu hanyalah memberikan pengetahuan pada masyarakat. Karena jika nomornya diblokir maka penipu bisa membeli nomor baru dan melakukan penipuan lagi. Jadi untuk saat ini memberikan pemahaman adalah solusi yang jitu, katanya.
Sebaliknya Nurul Yakin Setiabudi menilai SMS penipuan bisa dikurangi jika operator proaktif. Tapi jika operator tidak proaktif, maka pelanggan jelas yang akan rugi.
Bagi mereka yang paham itu adalah penipuan sih tidak masalah, tapi mereka yang tidak tahu kan bisa bahaya karena ini cukup mewabah. Di Medan, Semarang banyak yang melaporkan hal yang sama. Jadi mustinya operator proaktif akan masalah semacam ini, jelasnya.
Ia juga menilai operator harusnya mengawasi bonus SMS gratis. Bonus SMS yang merupakan bagian dari layanan operator bisa jadi pisau bermata dua. Jika dimanfaatkan baik, hasilnya juga baik. Tapi untuk mengantisipasi harus responsif, checking, recheck dan diblokir, paparnya.
Sementara Heru Sutadi menilai SMS penipuan lebih pada kesempatan dan niat. Bonus SMS gratis memang membuka kesempatan besar, tapi di sisi lain masyarakat tetap mencari tarif yang murah sehingga menjadi dilematis.
Kalau menurut kami jika ada pelanggaran langsung dilaporkan saja kemudian masyarakat perlu diberdayakan untuk tidak mudah terbuai bujuk rayu penipu, ujarnya [ito/mdr].
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
1 Komentar
reina @ Selasa, 14 September 2010 | 08:29 WIB
terus qt harus lapor..saya salah satu korban penipuan itu..
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.