INILAH.COM, Jakarta - Pengemis yang berjejer di vihara menjadi pemandangan lazim setiap Tahun Baru China alias Imlek. Namun tahun ini yang tidak biasa bagi pengemis adalah 'angpao' yang seret dibandingkan tahun lalu.
Seperti di Vihara Bahtera Bhakti, Jakarta Utara, Senin (26/1), sudah dipadati pengunjung yang hendak bersembahyang. Tak ketinggalan sekitar 50 pengemis sudah memadati pintu masuk vihara. Terlihat para pengunjung vihara yang selesai sembayang membagi-bagikan uang alias angpao.
Saat pengunjung menyebarkan uang receh, para pengemis bercampur baur antara yang tua, yang muda, anak-anak, perempuan maupun laki-laki saling berebutan untuk mendapatkan uang tersebut. Kadang kala terlihat anak-anak yang terinjak, tertindih oleh pengemis yang lain.
Para pengemis mengaku menjadikan Imlek sebagai ajang memperoleh uang. Bahkan ada juga yang tiap Imlek selalu datang ke vihara untuk mengemis. Seperti ibu rumah tangga Tati asal Tanah Abang, mengaku sudah 5 tahun ia selalu mengemis di Vihara Bahtera Bhakti. Begitu pun tahun ini, ia membawa seluruh keluarganya untuk mengemis di sini.
"Dari Sabtu sudah di sini. Tapi Imlek tahun ini tidak seramai tahun kemarin. Sekarang saja baru dapat Rp 30 ribu. Kalau tahun kemarin bisa dapat Rp 100 ribu. Padahal untuk modal ke sini saja tidak cukup," keluh Tati.
Menurut Tati, selama di Vihara Bahtera Bhakti, dirinya dan keluarga membuat gubuk di sekitar vihara untuk tempat berteduh.
Hal serupa juga dialami oleh ibu rumah tangga asal Juanda, Ani, yang mengaku baru pertama kali melakukan hal ini. Dirinya tertarik untuk datang ke Vihara Bahtera Bhakti karena diajak oleh temannya.
"Saya datang membawa anak saya yang masih berusia 2 bulan, karena saya janda, ya harus cari uang," ujarnya. Ani yang datang sejak hari Minggu ini mengaku baru mendapatkan uang Rp 25 ribu.
Sementara Koordinator Vihara Bahtera Bhakti, Aprianto, mengatakan, pihak vihara tidak menyediakan angpao untuk pengemis.
"Kita tidak menyediakan angpao. Cukup dari para pengunjung. Kami juga kadang diberi angpao dari pengunjung. Biasanya vihara akan memberikan sumbangan berbentuk sembako, jadi tidak dalam bentuk uang. Biasanya hanya dilakukan pada bulan ke-8 dihitung dari Tahun Baru China. Pada bulan ke-8 itu biasanya dilakukan sembahyang, sekaligus bertepatan dengan ulang tahun vihara," tuturnya.
Biasanya, lanjut dia, sumbangan yang disediakan vihara berasal dari para jemaah vihara. Ia juga menuturkan sering menerima komplain dari para jemaah terkait dengan adanya para pengemis di sekitar vihara. Namun pihak vihara tidak bisa berbuat banyak.
"Kita tidak bisa melakukan pengusiran, karena dalam agama tidak mengajarkan kekerasan. Selama mereka tidak merusak acara sembahyang, tidak apa-apa, karena mereka juga ingin mencari rezeki dari vihara di sini," ucap Aprianto. [win/sss]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !