Minggu, 27 Mei 2012 | 00:04 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Terbang di Indonesia
Headline
Oleh: Karim Raslan
web - Rabu, 1 September 2010 | 11:47 WIB
BAYANGKAN hari sudah sore dan Anda baru mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Anda berada di akhir sebuah perjalanan panjang lintas benua, termasuk pergantian pesawat sebentar lagi. Anda lelah dan sangat ingin mandi.
Anda berjalan menyusuri koridor bata merah di bandara, menuju imigrasi. Di sebelah kiri, Anda melihat antrean panjang bagai ular di beberapa konter. Mereka sedang menunggu penyelesaian visa-on-arrival mereka. Kasihan mereka, pikir Anda. Paling tidak Anda tidak harus melalui itu semua.
Tapi tiba-tiba, kelancaran proses perjalanan Anda terhenti. Tampaknya ada semacam demonstrasi di depan Anda. Jalan Anda terhambat. Anda lemas seketika. Aduh! Ada ratusan orang di depan Anda. Bahkan pasar Tanah Abang menjelang Lebaran saja tidak seramai ini.
Pada saat seperti ini, keahlian Anda tetap tenang dan tidak terpengaruh keadaan menjadi sangat berguna. Dengan ratusan orang di depan Anda, tidak ada gunanya menjadi tegang atau kesal. Semua orang sedang mengalami penderitaan serupa, jadi buat apa memperparah keadaan?
Anda hanya perlu menerima nasib dan tetap sabar. Inilah saatnya mengeluarkan ke-Jawa-an Anda, dan bersikap nrimo, menyerah pada keadaan dan nasib seperti para petani Jawa yang sabar menunggu panen.
Perjalanan dengan pesawat di Indonesia memang memerlukan sikap nrimo ini. Dibutuhkan keahlian yang sangat zen untuk dapat melalui berbagai ketidaknyamanan yang disebabkannya. Anda harus siap mental menghadapi orang-orang, penerbangan yang tertunda dan bermacam peristiwa lain.
Pengalaman saya melakukan perjalanan di Indonesia selama berpuluh tahun sudah membuat saya biasa. Tapi tetap saja, kalau soal penerbangan, saya masih menjadi seorang romantis akut. Walaupun telah ratusan jam saya habiskan melintasi Asia, Eropa dan Amerika Utara, dan walaupun telah sering menghadapi ketidaknyamanan, saya tidak pernah kehilangan rasa kagum saya dengan industri penerbangan.
Melakukan perjalanan di Indonesia adalah intensifikasi kesenangan dan juga sakit kepala. Selama 10 tahun terakhir di Indonesia, saya telah mengalami sisi terbaik dan terburuk dari industri penerbangannya. Yang terakhir itu jelas tentunya.
Di satu sisi, tak ada yang mengalahkan keberangkatan pagi hari dari Soekarno-Hatta ke Surabaya atau Denpasar. Terbang melintasi Pulau Jawa menembus langit cerah dengan pegunungan di kanan Anda adalah salah satu pemandangan paling dahsyat di dunia. Anda dapat melihat ke luar dan menghitung satu per satu gunung berapi yang membujur bagai tulang punggung Pulau Jawa.
Kendati saya menghabiskan sebagian besar waktu saya di rute utama melintasi nusantara, sebelum boarding saya suka melihat dengan tatapan ingin, ketika pesawat dalam sejumlah penerbangan lebih eksotis tinggal landas.
Keberangkatan ke Natuna, Berau, Sampit, Meulaboh, dan Palu: siapa yang ada di pesawat-pesawat itu dan kenapa mereka pergi ke sana? Kadang saya membuka suratkabar dan melihat bagian jadwal penerbangan pesawat: mengapa ada lebih dari 12 penerbangan ke Pangkal Pinang, sebuah daerah yang bangunan tertingginya adalah menara untuk burung walet?
Sejumlah pesawat ini menawarkan janji akan medan yang belum terjelajahi dan terbayangkan. Pengalaman di bandara-bandara Indonesia sudah merupakan suatu petualangan.
Ada tempat-tempat yang bahkan tidak lebih besar daripada rumah pribadi. Bahkan tujuan ramai seperti Bandara Adisucipto di Yogyakarta saja masih tampak begitu kecil bila dibandingkan dengan bandara luar negeri. Para pelancong luar negeri yang baru tiba harus antre di bawah teriknya matahari karena ruang kedatangannya begitu kecil, lebih cocok jadi kamar depan sebuah villa di Serpong.
Ketika arus penumpang semakin meningkat, sejumlah bandara di Indonesia kewalahan menghadapinya. Jumlah orang semakin banyak yang keluar dari pesawat di Bandara Juanda, Surabaya. Di Bandara Polonia, Medan, bagian kedatangannya begitu ramai bagaikan sebuah pertunjukan tari daerah, diwarnai fisilitas khas orang Batak.
Puncaknya adalah saat menjelang Lebaran, saat para penduduk Jakarta pulang kampung. Pada 2009, Soekarno-Hatta melayani 1,71 juta penumpang seputar Lebaran, naik 1,37 juta dari tahun sebelumnya.
Tahun ini, pemerintah memperkirakan 1,97 juta orang akan melakukan penerbangan dari bandara tersebut, naik 42,91%. Dan ini hanya pada saat musim liburan Soekarno-Hatta menghadapi 36.466.823 penumpang setahun terakhir.
Fenomena ini tidak hanya terbatas pada Jakarta saja. Pada 2009, bandara Juanda kedatangan 4.073 pesawat dengan 492.291 penumpang. Angka ini bakal bertambah seiring membengkaknya populasi Indonesia.
Jadi, walaupun Indonesia selalu menganggap dirinya sebagai bangsa maritim, saya selalu percaya bahwa perjalanan dengan pesawat akan segera mendominasi. Perjalanan terbang itu adalah pengalaman yang sangat Indonesia: begitu demokratis dan terus-menerus. Tidak ada yang bisa lolos dari situasi-situasi buruknya, walaupun orang-orang yang cukup nrimo akan dapat melaluinya dengan tetap tenang. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.