Minggu, 27 Mei 2012 | 03:01 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pengalaman Memotret Vihara Saat Imlek
Headline
Emilia Susiati
Oleh:
web - Selasa, 27 Januari 2009 | 13:02 WIB
Sudah sejak jam lima sore saya dan beberapa teman janjian untuk hunting foto di vihara di Pancoran, Glodok. Berharap mendapatkan suasana meriah di kawasan Glodok ternyata harapan sirna.

Lampion-lampion yang pada tahun lalu menghiasi jalan-jalan sepanjang jalan Glodok sama sekali tak ada. Dan penerangan jalan hanya dari mobil yang antri menuju ke vihara. Setelah jalan beberapa saat, saya baru mendapati gang dengan alas conblok menuju vihara dan tergantung sedikit lampion merah, tidak seperti bayangan saya.

Di sisi kiri dan kanan sepanjang gang penjual masih menjajakan pohon-pohon merah untuk menggantungkan angpau. Juga lampu-lampu kelap kelip dan baju-baju bermotif bunga-bunga merah dengan kerah Shanghai. Penjual berteriak menawarkan namun tak ada pembeli. Warga keturunan hanya berjalan cepat menuju vihara ada yang naik becak, juga berboncengan sepeda motor.

Saya berhenti di ujung gang itu sambil menyiapkan kamera saya, namun hati saya terasa sedih juga karena merasakan suasana krisis di sekitar itu. Beberapa teman sesama penghobi fotografi sudah mulai membidik ke arah lampion.

Setelah berjalan beberapa saat sampailah di vihara yang saya tuju. Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh namun di halaman vihara sudah mulai berkerumun warga. Eh bukan setelah saya amati, hampir semua orang di pelataran itu membawa kamera digital dan beberapa membawa handycam dan serta kameraman dari beberapa stasiun tv.

Saya masuk kedalam vihara. Ternyata di dalam juga sama! Hanya beberapa gelintir warga yang sembahyang, di berbagai sudut sudah 'diduduki' para 'fotografer dan kameramen'. Karena saking bebasnya, siapapun yang ingin melihat warga keturunan bersembayang tidak ada larangan. Alhasil, setiap ingin memotret selalu berebut angel dengan sesama fotografer heehe, saya jadi senyum2 sendirikarena kadang siku bersinggungan atau malah yang akan saya bidik di sebrangnya juga pemegang kamera! Wadduuuh.

Saya berkeliling masuk ke dalam komplek vihara, hanya dalam waktu satu jam bisa membuat tubuh basah kuyup oleh keringat dan nafas tersengal sengal. Asap dupa dan kembang serta panas lilin yang menyala membuat saya segera keluar dari ruangan.

Saya salut sekali, walaupun banyak sekali warga yang memotret dan mengabadikan warga yang sembahyang tetap tekun dan samasekali tidak marah atau merasa terganggu, padahal orang2 yang jeprat jepret seperti saya ini jumlahnya 2 kali banyaknya timbang yang bersembahyang disitu. Saya jadi merasa malu sendiri karena merasa turut menjajah tempat mereka bersembahyang.

Akhirnya saya menepi dipinggir halaman vihara bersama puluhan fotografer mengamati dari luar. kembang api sudah mulai dinyalakan. Langit yang tidak mendung dan hanya ada satu bintang seperti mengerti suasana krisis global yang melanda dunia.

Saya amati, dari puluhan pemotret beberapa teman-teman dari media, baik yang ternama atau freelancer atau hanya penghobi seperti saya ini sudah mulai basah oleh berkeringat. Saya merasa senang juga ketemu teman-teman lama.

Waktu berjalan terus sampai pukul sembilan, saya dan teman sudah keroncongan. Akhirnya kita menemukan warung bakpau dan siomay dekat vihara dan di sepanjang jalan menuju warung tersebut dipenuhi olah mobil-mobil van dari berbagai stasiun tv mereka berlomba-lomba mengudarakan siaran langsung. Selain itu di jalan yang tersisa sempit itu dipenuhi warga miskin mulai dari bayi sampai kakek dan nenek yang renta semua duduk tanpa alas di pinggir-pinggir jalan.

Hati saya berdegup kencang dan terenyuh, ternyata sepanjang jalan itu warga miskin dua kali lebih banyak dibanding tahun lalu. Warga yang duduk-duduk di pelataran jalan itu sudah tak bisa masuk lokasi vihara sudah tak muat dan sudah sangat berhimpitan. Saya melihat bayi-bayi tertidur tanpa alas di halaman vihara, berhimpitan satu sama lain. Hampir tak ada celah untuk dilewati. Dengan pakaian yang lusuh serta wajah yang layu warga miskin menunggu angpau dari warga keturunan yang ingin membagi angpao

Ternyata saya mendengar dari warga keturunan, mereka semua agak ngeri dan cemas kali ini, karena angpao yang akan dibagikan mungkin tidak mencukupi jumlah warga miskin yang datang.

Saya dan teman merasa sangat senang dan punya pengalaman sederhana tapi menyentuh hati, saya bayangkan saat kerusuhan seperti yang diceritakan oleh mereka. Sangat mencekam dan mengerikan. sudah seharusnya tak boleh terulang peristiwa yang merusak persaudaraan itu.

Akhirnya saya melangkah dengan hati riang dari gang itu, walaupun saat ini krisis akan tetapi bila suasana persaudaraan dan rasa saling menghargai tetap ada dan terjalin erat. Saya kira krisis dapat diatasi dengan saling membantu. Yang mampu memberikan sekuatan pada yang lemah, yang lemah bergandengan tangan saling menjalin jadi lebih kuat. Satu-satunya jalan adalah dengan membuka hati dan kemauan untuk berbagi, jangan memandang kasta, agama dan ras. Karena pada hakekatnya kita semua bersaudara!

Emilia Susiati, emiliasusiati@yahoo.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.