INILAH.COM, Jakarta Bursa saham Indonesia Kamis (2/9), masih berpotensi melanjutkan penguatan. Beberapa saham yang menjadi penggerak indeks berasal dari sektor consumer goods dan perbankan. Arga Paradita Sutiono,
research analyst Asia Kapitalindo Securities mengatakan, IHSG hari ini masih berpeluang naik. Hal ini karena tertahannya koreksi saham kapitalisasi besar (big cap) pada perdagangan kemarin di level 3.080.
Namun, volume perdagangan saat ini sudah terlalu tinggi, dan kondisi market global masih
wait and see atas laporan data ekonomi AS lebih lanjut. Ini berarti perlu pemicu dari global untuk konfirmasi penguatan lebih lanjut, katanya.
Menurutnya, saat ini IHSG sudah menembus level resistan kuat di 3.118. Dengan level resistan ini,
price earning (PE) indeks berada di kisaran 18 kali. Namun, Arga menilai, indeks sebenarnya berpeluang menuju PE 20 kali, yang dianggapnya masih moderat, belum terlalu mahal.
Hal ini mengingat PE IHSG pernah menyentuh 25-27 kali pada 2008. Padahal, ketika itu bursa sedang mengalami bubble. Ini berarti, IHSG masih berpeluang naik hingga ke level 3.200, ujarnya.
Di tengah kondisi ini, hanya beberapa sektor dengan potensi upside, yang bisa menjadi motor penggerak IHSG. Salah satunya adalah saham consumer goods. Menurutnya, saat ini kondisi ekonomi eksternal belum terkonfirmasi karena pasar global masih menunggu data tenaga kerja AS.
Hal ini menyebabkan investor kembali ke pasar domestik. Apalagi dengan terkendalinya inflasi Agustus dan ekspektasi suku bunga masih dipertahankan di level rendah, maka daya beli masyarakat akan tetap tinggi.
Beberapa saham pilihan di sektor ini adalah PT Mitra Adiperkasa (
MAPI), PT Matahari Putra Prima (
MPPA), dan PT Ramayana Lestari Sentosa (
RALS). Saham berbasis pasar domestik kembali jadi motor penggerak pertumbuhan, terutama karena PE nya yang rendah, katanya.
Demikian juga PT Indofood Sukses Makmur (INDF)yang bisa mulai diakumulasi setelah kemarin terterpa profit taking. "
Buy On Weakness untuk saham INDF," ujarnya.
Sedangkan saham properti dan perbankan menarik, karena tingkat inflasi Agustus yang terkendali, di luar ekspektasi pasar yang memprediksi inflasi tinggi. Ini berarti kalaupun BI akan menyesuaikan suku bunga, tidak akan melebihi target BI sebesar 7%, ucapnya.
Beberapa saham bank yang direkomendasikan adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Bukopin (
BKPN) dan PT Bank Jabar Banten (
BJBR). Sedangkan saham properti pilihannya adalah PT Summarecon Agung (
SMRA) dan PT Alam sutra Realty (
ASRI). Akumulasi beli untuk saham-saham ini, pungkasnya.
Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

pada Rabu (1/9) naik 53,432 poin (1,73%) ke level 3.135,316. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup ramai, dimana volume transaksi 5,245 miliar lembar saham, senilai Rp4,754 triliun dan frekuensi 93.973 kali.
Sebanyak 142 saham naik, 65 saham turun dan 80 saham stagnan. Asing kembali mencatatkan penguatan, dengan nilai transaksi beli bersih (net foregin buy) mencapai Rp122 miliar. Rinciannya adalah nilai transaksi beli sebesar Rp1,897 triliun dan nilai transaksi jual asing mencapai Rp1,775 triliun. [mdr]