INILAH.COM, Jakarta - Saham BUMI, Kamis (2/9) diprediksi masih mengalami technical rebound. Kondisi market pun mendukung. Sebab, harga batubara di Newscastle mencapai US$91 per metrik ton. Trading buy!Nico Simatupang, analis investasi PT GMT Asset Management mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (
BUMI) hari ini salah satunya karena faktor teknikal. Sebab, menurutnya, level
support Rp1.650 tidak berhasil ditembus ke bawah.
Namun, karena faktor teknis, penguatan saham ini belum mengkonfirmasi kenaikan lebih jauh ke level Rp2.000.
BUMI akan mengarah ke level
resistance Rp1.870 dan Rp1.650 sebagai level
support-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (1/9).
Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp40 (2,40%) menjadi Rp1.700 dibandingkan sebelumnya di level Rp1.660. Harga tertingginya mencapai Rp1.730 dan terendah Rp1.680. Volume transaksi mencapai 144,8 juta unit saham senilai Rp246,8 miliar dan frekuensi 3.993 kali.
Potensi penguatan BUMI, lanjut Nico, juga dipicu peluang positifnya sentimen market. Dari sisi sentimen regional, bursa Asia berpeluang menguat sehingga berimbas positif bagi indeks saham domestik termasuk BUMI, ujarnya.
Hal ini dipicu kenaikan beberapa harga komoditas terutama batubara ke level US$91 per metrik ton berdasarkan harga di Newcastle. Karena itu, rata-rata market akan mengalami kenaikan hari ini, tutur Nico.
Penguatan market domestik juga dipicu pasar yang masih merespon positif inflasi Agustus yang dirilis di bawah ekspektasi 1% yaitu 0,76%. Pasar juga merespon positif data ekonomi dari China yaitu data manufaktur yang dirilis di atas ekskpektasi.
Bedasarkan data versi pemerintah, manufaktur China berada di level 51,7 dari ekspektasi 51,8. Sebelumnya berada di posisi 51,2. Sedangkan versi swasta, HSBC merilis, manufaktur China berada di posisi 51,9 dari sebelumnya 49,4. Meski data versi pemerintah stagnan tapi pasar lebih melihat data yang dirilis pihak swasta, ucapnya.
Tapi, karena penurunan laba bersih BUMI di semester pertama 2010 bagi investor jangka panjang, belum tepat untuk masuk di saham sejuta umat ini. Menurutnya, yang bermain di saham BUMI saat ini adalah para
trader. Jadi, yang masuk di saham ini semuanya merupakan transaksi
short term, timpalnya.
Seperti diketahui, BUMI mencatat penurunan laba bersih sekitar 30,01% menjadi US$134,575 juta pada semester I 2010 dibandingkan periode yang sama 2009 US$192,295 juta. Penurunan laba bersih disebabkan kenaikan beban pokok sekitar 36,96% menjadi US$1,348 miliar dari sebelumnya hanya US$984,353 juta.
Dari sisi fundamental, Nico menegaskan, belum begitu jernih untuk menentukan arah posisi di saham BUMI. Apalagi, perseroan dikabarkan akan menambah utang kembali senilai US$300 juta. Tapi belum diketahui apakah BUMI akan mengeluarkan kembali
bond atau pinjaman bank, ucapnya.
Karena itu, penguatan saham BUMI hari ini semata faktor
technical rebound. Saya rekomendasikan,
trading buy untuk BUMI, tandas Nico Simatupang. [mdr]