INILAH.COM, Chicago - Setelah rilisnya data ekonomi AS yang menunjukkan pelemahan, datang ancaman yang lebih menakutkan, yakni awal dari apa yang secara tradisional disebut bulan terburuk. Dapatkah bursa saham menghadapi krisis September ini?
Jika melihat sejarahnya, perjalanan ke depan masih akan sulit, kata Sam Stovall, kepala strategi investasi di Standard & Poor. Manajer reksadana cenderung membersihkan rumah setelah Hari Buruh, dengan mengambil keuntungan pada saham unggulan dan memaksimalkan portofolio, sebelum berakhirnya laporan akhir kuartal yang positif bagi klien mereka.
Demikian pula para pekerja kembali dari istirahat musim panas juga cenderung menjual saham, untuk kembali menyusun rencana keuangan mereka. Setiap masalah ekonomi atau saham yang muncul selama musim panas, yakni ketika volume perdagangan ringan, kebanyakan dihiraukan hingga musim berikutnya.
Jeffrey Hirsch, kepala editor daro Stock Trader Almanac mengatakan, pasar diawali dengan pergerakan yang kuat, kemudian jatuh. Hanya ada bias jual umum di bulan September, katanya.
Empat kali dalam satu dekade terakhir saja, indeks S&P 500 turun minimal 5% pada September. Penurunan rata-rata September sejak 1950 sebesar 0,6%, sesuai Kalender Stock Trader. Februari adalah terburuk berikutnya, dengan kerugian rata-rata 0,2% dan Desember dan November adalah yang terbaik, dengan rata-rata keuntungan 1,6%.
Tentu saja, investor tidak lupa bahwa dunia keuangan ambruk pada September, hanya dua tahun yang lalu. Sedangkan serangan 11 September, merupakan pukulan yang menghancurkan pasar saham dan tetap menjadi memori yang menyakitkan.
Sedangkan tahun ini, masih banyak yang perlu dikhawatirkan. Indeks S & P 500 turun 14% dari yang level tertinggi pada April, dan turun 5% untuk Agustus. Kejatuhan saham ini dipicu goyahnya pemulihan ekonomi.
Perekonomian telah melambat, penjualan rumah tiga bulan terakhir mencatatkan angka terburuk, pengeluaran konsumen tak bersemangat dan pengangguran tertahan di dekat 10%. Buruknya data ekonomi telah melemahkan pasar pada pertengahan musim panas lalu dan mengguncang kepercayaan investor yang sebelumnya sudah khawatir.
Mark Zandi, kepala ekonom di Moody's Economy.com menuturkan, tak perlu waktu lama untuk membuat investor kembali menjual dan konsumen untuk mengurangi belanja. Minat akumulasi tampaknya masih minim, ujarnya.
Ketua Federal Reserve Ben Bernanke pekan lalu mengatakan, bank sentral siap mengambil langkah-langkah tambahan untuk meningkatkan perekonomian, termasuk membeli lebih banyak utang atau surat berharga hipotek untuk mempertahankan suku bunga rendah.
Tapi dengan tingkat suku bunga acuan sudah mendekati nol, setiap tindakan Fed tidak akan memberikan semangat dari tindakan masa lalu. Kongres tampaknya juga tidak memiliki keinginan untuk paket stimulus lain.
Sentimen lain juga berasal dari meningkatnya ketidakpastian, karena pemilihan November akan menentukan kontrol Kongres selama dua tahun ke depan. Indeks S&P 500 rata-rata telah turun 1,7% pada September sebelum pemilu paruh waktu 1930.
Bukan berarti September tidak cukup buruk tanpa semua beban tahun ini. Itu hanya satu dari tiga bulan, yakni Februari dan Juni, ketika harga saham biasanya turun.
Ketidakpastian itu adalah pertimbangan serius untuk penasihat keuangan seperti Dominick Vetrano dari sumber asli Keuangan di Chicago, yang memasukkan lebih banyak uang ke saham awal Agustus, meskipun pasar secara psikologis akan melemah pada September.
Berinvestasi sebelum September tidak menghasilkan banyak keuntungan, justru merugi banyak, jadi buat apa ambil risiko. Efek September ini telah banyak diketahui pasar.
Namun, beberapa pelaku pasar yang berpengalaman, memilih mengabaikan efek September. Menurut mereka, adalah kesalahan untuk mencoba mengambil keputusan berdasarkan data musiman beberapa tahun lalu.
Bagaimanapun, kesehatan keuangan perusahaan masing-masing merupakan basis utama yang akan membimbing investor. Hirsch, sejarawan pasar, setuju masa lalu tidak seharusnya dijadikan satu-satunya pedoman berinvestasi. Buktinya, indeks S&P 500 malah naik 4% September lalu.
Di sisi lain, Hirsch menilai, angka-angka itu tidak bisa diabaikan sepenuhnya. "Anda harus memiliki gambaran umum tentang irama pasar dan sentimennya, kemudian merespon sesuai data ini." [mdr]