Selasa, 29 Mei 2012 | 04:03 WIB
Follow Us: Facebook twitter
China Wajibkan KTP untuk Beli Kartu Perdana
Headline
IST
Oleh: Ellyzar Zachra PB
web - Kamis, 2 September 2010 | 13:00 WIB
INILAH.COM, Jakarta- China ingin semua warganya yang membeli kartu perdana melakukan registrasi data pribadi. Tapi langkah itu dicurigai sebagai upaya pemerintah untuk melacak masyarakat yang ikut demonstrasi.
Pihak regulator China melakukan kampanye terbaru untuk mencegah penyebaran informasi bohong, pesan pornogafi dan kejahatan lewat ponsel, seperti dikutip dari koran lokal China Daily.
Aturan ini telah dimulai Rabu lalu bagi semua penduduk, termasuk warga asing yang melakukan kunjungan singkat.
Aturan ini sudah dilaksanakan di beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia, Eropa dan Amerika Latin di mana ponsel seringkali dimanfaatkan untuk mengaktifkan bom, merencanakan serangan teroris atau sarana pendukung kejahatan.

Pihak Federal Amerika Serikat menunjukkan bahwa kartu perdana prepaid telah lama digunakan oleh penyalur obat-obatan terlarang. Tapi di banyak tempat, aturan ini dengan mudah dilanggar dengan memberikan identitas palsu.
Di sisi lain, pengamat HAM mengatakan bahwa pemerintah China mungkin sedang mencari cara untuk melacak masyarakat yang ikut andil secara mendadak saat demo.
Saya pikir pemerintah telah memperhatikan Iran di mana pendemo biasanya diorganisir dengan pesan SMS atau Twitter. Biasanya, mereka melakukan hal tersebut dengan alasan tanggung jawab sosial, kata Wang Songlian, koordinator penelitian lembaga HAM yang berbasis di Hong Kong.
Aturan sensor internet di China juga mengandung unsur politis terlihat dari banyaknya situs yang diblokir, termasuk Twitter, Facebook dan YouTube.
Permintaan identitas ini, di sisi lain, dikhawatirkan dapat meningkatkan ketakutan soal privasi bagi konsumen yang tidak ingin memberikan informasi pribadi ke operator atau perusahaan tekelomunikasi karena takut ini bisa dijual kembali, kata Duncan Clark, direktur manajer BDA China, perusahaan penelitian pasar teknologi.
Kementrian Industri dan Teknologi Informasi China menolak memberikan tanggapan.
Chen Haimin, pemilik toko serba ada di Beijing memutuskan tetap menjual kartu pedana tanpa mempertanyakan informasi pribadi pelanggan.
Bagaimana Anda tahu bahwa mereka (konsumen) akan memberikan identitas pribadi? Orang yang ingin mengirim pesan bohong selalu memiliki cara mengelabui regulator. Lagipula, tidak sulit mendapatkan identitas palsu, kata Haimin.[ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.