inovasi portal berita
Selasa, 7 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,998.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Pamor Saham Bank Menguat

Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Asteria
Kamis, 2 September 2010 | 13:31 WIB
INILAH.COM, Jakarta Sektor perbankan masih menyisakan peluang penguatan. Inflasi yang rendah dinilai akan memicu pertumbuhan kredit. Saham mana saja rekomendasi analis?
Arga Paradita Sutiono, research analyst Asia Kapitalindo Securities mengatakan, saham perbankan saat ini menarik dikoleksi. Tingkat inflasi Agustus yang terkendali, menimbulkan ekspektasi bahwa suku bunga BI rate akan bertahan di level rendah.
Kalaupun BI akan menyesuaikan suku bunga, tidak akan melebihi target BI sebesar 7%, ucapnya kepada INILAH.COM di Jakarta, Kamis (2/9)
Beberapa saham bank yang direkomendasikan adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Bukopin (BKPN) dan PT Bank Jabar Banten (BJBR). Dengan suku bunga rendah, maka perbankan bisa menggenjot pendapatan kreditnya. Akumulasi beli untuk saham-saham ini, ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Yuganur Wijanarko, analis HD Capital yang mengatakan, inflasi Agustus 0,76%, di bawah ekspektasi pasar (1%), memicu ekspektasi BI tidak menaikan BI rate.
Hal ini menyebabkan potensi pertumbuhan kredit tetap jalan dan risiko NPL (kredit bermasalah) tetap kecil, tuturnya. Saham yang dijagokan adalah BBRI, pemain di sektor mikro segmen unik, dengan spesialisasi di pinjaman high margin risiko rendah.
Menurutnya, dengan profitabilitas perseroan yang tinggi, ditunjukkan dengan return on equity (RoE) terbesar di sektornya, BBRI dapat menarik investor mengakumulasi saham ini. Rekomendasi beli dengan target harga di Rp9.850, ujarnya.
Sementara analis Credit Suisse Teddy Oetomo mengingatkan investor adanya kecenderungan penurunan net interest margin (NIM) perbankan, terutama terkait aturan persyaratan pencadangan (provisi). Hal ini karena ada risiko pemburukan aset kredit bank, ucapnya.
Kondisi ini akan memicu target batas atas loan to deposite ratio (LDR) bank nasional sebesar 78-102%, tidak terpenuhi. Ini berarti, akan banyak perbankan terkena pinalti, yang setara dengan 0,5-1,4% dari total net interest income (NII) perbankan setahun fiskal.
Hanya tiga bank besar yang LDR-nya di atas 78%, yakni PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI), katanya.
Meskipun NIM perbankan rata-rata akan anjlok, imbuh Teddy, ketiga bank tersebut diprediksikan tidak akan mengalami penurunan terlalu dalam. Di tengah situasi ini, ia menyarankan investor maintain di saham bank yang agak aman. Yakni yang memiliki LDR rendah, dan penurunan NIM akibat pinalti, hanya tipis.
Saham-saham pilihannya adalah BMRI dan BBNI. Hanya dua emiten ini yang akan selamat dari erosi, pungkasnya. Kabar terbaru dari BBNI menyebutkan bahwa perseroan akan menggelar right issue dengan target perolehan dana mencapai Rp7-10 triliun.
Perseroan telah menunjuk Bahana Securities sebagai lead underwriter dan 4 underwriter lain yang menangani right issue tersebut. Dengan target perolehan dana tersebut maka harga penawaran right berkisar Rp2.080-2.967 per saham atau masih diskon dari harga penutupan kemarin Rp3.425 per saham.
Samuel Sekuritas menilai, right issue sangat positif bagi kinerja BBNI ke depan, dengan kisaran perolehan dana Rp10 triliun yang dianggap lebih realistis. Posisi rasio kecukupan modal (CAR) BBNI pada semester pertama 2010 mencapai 13,8% dengan pertumbuhan kredit 5%.
Rendahnya penyaluran kredit BBNI salah satunya dipicu rendahnya posisi CAR. Saat ini BBNI di perdagangkan pada price to book value (PBV) 2010 sebesar 2,5 kali, masih cukup atraktif apabila dibandingkan rata-rata sektor 2,8 kali. Rekomendasi beli untuk BBNI, ujarnya.
Sementara untuk BMRI, ada rencana bahwa saham baru perseroan akan ditawarkan ke investor asing. Porsinya mencapai 66% dari total saham yang diterbitkan 2,4 miliar lembar. Untuk itu perseroan mengharapkan ada pihak asing yang terlibat sebagai lembaga profesi penunjang.
Saham baru atas rights issue yang dilepas sekitar 11,3% dari total modal yang ditempatkan perseroan. Mengacu pada harga BMRI di level Rp6.000, maka total nilai rights issue BUMN ini mencapai Rp13,14 triliun.
Perseroan saat ini menantikan persetujuan dari DPR atas aksi korporasi mereka. Pascarights issue, porsi kepemilikan pemerintah akan terdilusi sekitar 6,7%, dari 66,7% menjadi 60% dan publik sebesar 40%, dari saat ini sebesar 33%.
Tim analis Etrading Securities melihat ada hal positif dan negatif dari rencana BMRI. Dengan meningkatkan proporsi kepemilikan asing, secara tidak langsung akan menaikkan pamor BMRI di mata internasional dan dapat menambah opsi pendanaan dari pihak asing,
Namun, masuknya modal asing maka akan menimbulkan risiko kurs dan menimbulkan kekhawatiran dana tersebut akan menjadi hot money atau bubble. Selain tentu saja mengurangi proporsi dana lokal yang masuk, paparnya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.