inovasi portal berita
Rabu, 8 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,998.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Potensi Rebound, Cermati Saham Bank & Konsumsi

Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Natascha & Asteria
Jumat, 3 September 2010 | 06:17 WIB
TERKAIT
INILAH.COM, Jakarta Bursa saham Indonesia Jumat (3/9) ada potensi berbalik arah. Rekomendasi bagi saham yang memiliki potensi penguatan setelah keluarnya data inflasi, dari sektor perbankan dan konsumsi.
Analis Pasar Modal Batavia Prosperindo, Yusuf Ade Winoto memperkirakan, IHSG hari ini berpeluang rebound. Adanya placement beberapa saham yang menjatuhkan bursa kemarin, membuka potensi pembalikan arah pada IHSG hari ini.

Ia pun memprediksikan, sentimen bursa regional akan positif, menyusul rilisnya data tenaga kerja AS yang diperkirakan tidak seburuk estimasi pasar. Di tengah kondisi ini, Yusuf merekomendasikan saham-saham dari sektor perbankan dan konsumsi yang masih punya katalis penguatan setelah rilisnya data inflasi.

Menurutnya, sentimen terkendalinya inflasi dan suku bunga di level rendah, masih akan mempengaruhi pergerakan kedua sektor ini. Kalau bursa menguat, sektor ini akan terkerek naik dan menjadi faktor penggerak indeks, paparnya.

Saham perbankan diperkirakan masih akan menguat karena belum naik signifikan pada perdagangan kemarin. Sementara itu, meski peluang kenaikan suku bunga relatif kecil, laju pertumbuhan kredit diprediksi masih bisa mencapai 20%, meskipun BI menargetkan di atas angka 20%. Kalau ada perubahan, BI mungkin akan menaikkan BI rate 25-50 bps. Ini hanya untuk mencounter inflasi, jelasnya.

Beberapa saham perbankan yang dijagokan adalah PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan PT Bank Bukopin (BBKP). Sedangkan untuk sektor konsumsi, saham pilihannya adalah PT Indofood Sukses Makmur (INDF) dan PT Unilever (UNVR). Rekomendasi beli untuk emiten-emiten ini, katanya.

Saham UNVR saat ini sudah melesat sekitar 51% melebihi kenaikan IHSG, sehingga sebaiknya investor menunggu koreksi sebelum akumulasi lebih lanjut. Tapi, bagi investor yang memiliki dana kuat, bisa melakukan aksi beli atas emiten ini. "Karena valuasi tinggi atau rendah itu sebenarnya relatif," ucapnya.

Apalagi penguatan rupiah atas dolar AS, membuat biaya operasional perseroan berkurang. Ini karena sekitar 60% transaksi dilakukan dalam mata uang asing. Alhasil, sangat kecil peluang UNVR untuk terkoreksi dalam, katanya.

Sedangkan saham INDF selain dinilai lebih murah, juga defensif. Emiten ini akan diuntungkan adanya peningkatan konsumsi masyarakat. Sementara kalaupun ekonomi turun, tetap ada pembelian. "Ini yang menjadikan INDF defensif," ujarnya.

Daya tarik lain untuk INDF adalah mulai berproduksinya divisi gula perseroan. Dengan terproteksinya pasar gula nasional, maka harga gula dalam negeri akan sangat tinggi. Kondisi ini memungkinkan kenaikan margin operasional hingga 50% untuk divisi gula, pungkasnya.

Pada perdagangan Kamis (2/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 13,167 poin (0,42%) ke level 3.122,149. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup ramai, dimana volume transaksi tercatat sebesar 6,995 miliar lembar saham senilai Rp9,172 triliun, dengan frekuensi 106.273 kali.

Sebanyak 81 saham naik, 121 saham turun dan 82 saham stagnan. Asing banyak melakukan aksi jual, dengan nilai transaksi jual bersih (net foreign sell) mencapai Rp382 miliar. Rinciannya adalah nilai transaksi jual mencapai Rp4,924 triliun sedangkan nilai transaksi beli sebesar Rp4,541 triliun. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.