INILAH.COM, Jakarta - PT Adaro Energy Tbk (ADRO) masih melakukan kajian atas hasil perjanjian akuisisi 25% saham di tujuh proyek tambang batubara milik PT BHP Biliton Indonesia.
"Maruwai kita masih melakukan kajian dan study. Kita harus mempelajari inventory coal dan infrastrukturnya agar efisien," ujar Deputy Corporate Secretary PT Adaro Energy Tbk, Devindra Ratzarwin, Kamis (2/9).
Devindra menambahkan proyek Maruwai tersebut akan dikerjakan tergantung dari hasil kajian dan studi. Perseroan sedang menunggu kajian dari pemerintah dan BHP dan pengumuman pada 27 Mei 2011.
Seperti diketahui, perjanjian akuisisi anak usaha perseroan PT Alam Tri Abadi yang mengakuisisi 25% saham di tujuh proyek tambang batubara milik PT BHP Biliton Indonesia. Adapun tujuh proyek tambang Maruwai, yakni PT Maruwai Coal, PT Juloi Coal, PT Kalteng Coal, PT Sumber Barito Coal, PT Lahai Coal, PT Ratah Coal dan PT Pari Coal.
Terkait beban utang sekitar Rp580 miliar, Devindra menuturkan perseroan akan menggunakan dana internal untuk melunasi pembayaran beban bunga. Perseroan belum berencana untuk meminjam uang pada perbankan.
Sekretaris Perusahaan Adaro Energy, Andre Mamuaya mengatakan saat ini perseroan masih memiliki standby fasilitas pinjaman sekitar US$500 juta dari enam bank, antara lain Standard Chartered, bank Mitsubishi Sumitomo dan ANZ.
Sementara itu, terkait kabar rencana pelepasan saham perdana (initial public offering/ IPO) anak usaha perseroan PT Saptaindra Sejati, Devindra menuturkan rencana itu ditunda untuk jangka waktu yang belum ditentukan. Rencana tersebut juga tidak akan dilanjutkan dalam waktu dekat sejalan dengan perubahan strategi kepemilikan perseroan di anak-anak usaha.
"Bukan karena kondisi pasar, tetapi karena kepemilikan kami sekarang sudah mayoritas, sehingga kami berpikir ulang untuk apa IPO itu," kata Devindra. [cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !