INILAH.COM, Ponorogo Kematian Nita Setyaningrum (28), TKI yang tewas di Hongkong menambah panjang daftar kematian TKI asal Ponorogo, Jawa Timur. Setidaknya dalam kurun waktu dua pekan sudah tiga TKI asal Ponorogo meninggal dunia.
Setelah Suyanto (47) warga Desa Tlasih, Kecamatan Ponorogo yang meninggal akibat kecelakaan, Kamis 26 Agustus lalu. Disusul Lestari (23) warga Desa Japan, Kecamatan Babadan yang meninggal akibat penyakit jantung pada Minggu 29 Agustus lalu.
Jenazah Nita sendiri tiba dirumah duka di Dusun Krajan, Desa Setono, Kecamatan Jenangan Ponorogo, Jumat (3/9) dini hari sekitar pukul 01.30 WIB.
Ratapan raut muka kesedihan dari keluarga pasangan Slamet dan Wiji Lestari itu terpancar jelas dari wajah saudara dan kerabat korban yang sudah tiga pekan meninggal dunia ini. Linangan air mata menetes sudah ketika mobil ambulan pembawa jenazah korban meninggal tiba di rumah duka.
Tak jarang pula dijumpai beberapa kerabat yang jatuh pingsan maupun menangis histeris. "Sesekali ibu korban meninggal ini mengurung diri di dalam kamar dan menangisi kepergian putri tercintanya ini. Bahkan suaminya pun sesekali melamun dan menitikan air mata," tutur Andik, kakak korban.
Menurutnya, ketika pulang kampung sekitar satu bulan yang lalu, ayahnya sudah melarang Nita untuk kembali ke Hongkong untuk menjadi pembantu rumah tangga. Apalagi, Nita baru satu bulan menikah dengan Joko Susilo, yang juga pernah menjadi TKI di Malaysia itu. Namun keinginan sang ayah ini tak digubris anak nomor dua dari tiga bersaudara itu.
"Sebenarnya bapak sudah melarang Nita untuk kembali, namun keinginan Nita kuat. Selain itu dia beralasan di Ponorogo sudah sulit mencari lapangan kerja serta dia juga masih berkeinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak," pungkasnya. [beritajatim.com/mut/nic]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !