INILAH.COM, Jakarta - Bank Indonesia mempertahankan Bi rate di tingkat 6,5%.
Hal ini disampaikan Gubernur BI, Darmin Nasution dalam acara jumpa persnya di Gedung BI, Jumat (3/9).
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 3 September 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada tingkat 6,5%. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap perkembangan terkini perekonomian yang secara umum menunjukkan perkembangan yang terus membaik.
Keputusan tersebut juga didasarkan pada perkembangan ekonomi domestik yang ditandai oleh kecenderungan peningkatan sisi permintaan yang lebih cepat dari respons sisi penawaran. Kuatnya permintaan domestik terutama terkait dengan kegiatan konsumsi rumah tangga, sementara peran investasi mulai meningkat meskipun belum optimal mendukung perbaikan di sisi suplai.
Tingginya permintaan domestik tersebut mendorong impor meningkat cukup pesat. Kuatnya permintaan domestik tersebut terjadi di tengah kecenderungan perlambatan pemulihan ekonomi global. Hal ini ditandai oleh perlambatan ekonomi China dan sejumlah negara maju terutama Amerika Serikat dan Jepang. Sementara itu, prospek ekonomi di negara Emerging Market terutama di Asia secara umum masih mencatat perbaikan.
Namun demikian, meningkatnya tekanan inflasi akhir-akhir ini menjadi perhatian khusus Dewan Gubernur akan menempuh kebijakan moneter dan perbankan yang diperlukan agar perkembangan inflasi ke depan tetap berada pada sasaran yang ditetapkan, yaitu sebesar 5% 1% untuk tahun 2010 dan 2011.
"Untuk saat ini, Dewan Gubernur memandang BI Rate sebesar 6,5% masih cukup memadai untuk menjaga ekspektasi inflasi ke depan dengan tetap mewaspadai mulai meningkatnya inflasi," ujarnya.
Dewan Gubernur mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi domestik masih dalam tren meningkat dan disertai terjaganya stabilitas sistem keuangan. [cms]