INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (6/9) diprediksikan menguat tipis. Risk appetite tumbuh akibat positifnya data manufaktur dan perumahan AS.Ariston Tjendra, periset dan analis PT Monex Investindo Futures mengatakan, potensi penguatan rupiah awal pekan ini dipicu oleh kembali tumbuhnya
risk appetite (hasrat pasar pada aset-aset berisiko), sehingga dolar AS melemah.
Hal ini dipicu respon positif pasar atas data manufaktur dan perumahan AS di pekan lalu. Rupiah akan bergerak dalam kisara
support 8.980 dan 9.020 sebagai level
resistance-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta.
Ariston menjelaskan, kalau dilihat dari sisi grafik, pekan lalu, ada kabar bagus dari AS. Di antaranya, adalah aktivitas manufaktur, yang memicu market sedikit terbawa positif. Sebab, membaiknya data tersebut, memungkinkan perlambatan ekonomi AS tidak separah yang diperkirakan, ujarnya.
Dolar AS tertekan setelah rilisnya data aktivitas manufaktur AS, sehingga rupiah pun secara otomatis terangkat. Selain itu, data penjualan rumah tertunda (
pending home sales), yang diproyeksikan minus 1,3% ternyata dirilis plus 5,2%.
Tapi, penguatan rupiah tidak akan sekencang sebelumnya. Sebab, di level-level mendekati 9.000, secara teknis merupakan tahanan yang sangat kuat, ungkap Ariston.
Kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, ditutup naik tipis 8 poin (0,08%) ke level 9.000/9.008 per dolar AS. [ast]