INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI) sepekan ini terpantau stagnan, setelah berfluktuasi terbatas. Minat pelaku pasar tersedot penawaran saham perdana (IPO) emiten lain, yakni Harum Energy.
Demikian ujar analis saham PT HD Capital Tbk Yuganur Widjanarko, saat dihubungi INILAH.COM, akhir pekan lalu. Menurutnya, pelaku pasar tidak terlalu agresif membeli saham BUMI, karena tertarik IPO Harum Energy. Emiten ini memiliki utang yang jauh lebih rendah dari BUMI, katanya.
Yuganur menuturkan, saat ini utang BUMI lebih tinggi ketimbang Harum Energy, yakni 4 kali berbanding 1,8 kali. Adapun Harum Energy akan menawarkan 650 juta lembar saham (24%) kepada publik di harga Rp5.000-6.300 per saham yang akan dicatatkan di bursa pada 6 Oktober 2010.
Target dana IPO berkisar antara Rp 3,250 - 4,095 triliun. Dana IPO ini akan digunakan untuk melunasi utang, salah satunya kepada DBS sebesar US$ 80 juta. Selain itu, Harum Energy juga akan membiayai pembelian 10 unit kapal runda dan 10 unit kapal tongkang, serta mengembangkan usaha US$ 30 juta. Perseroan juga siap ekspansi bisnis batubara, dengan menyuntikkan dana US$ 50 juta kepada anak usaha, PT Santan Batubara.
Terbatasnya pergerakan BUMI juga dipicu belum adanya kejelasan aksi korporasi untuk melakukan penawaran umum terbatas tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Saat ini investor lokal dan asing masih menunggu informasi manajemen lebih lanjut, ujarnya.
Namun, imbuh Yuga, harga batu bara yang mencapai US$91-US$92 per ton, cukup memberikan sentimen positif bagi pergerakan saham BUMI. Demikian pula pembagian dividen Newmont. Ia memprediksi, harga saham BUMI relatif stagnan pekan depan. Pelaku pasar masih wait and see dan cenderung hold saham BUMI. Harga saham BUMI masih akan berada di level 1.600-1.800, pungkasnya.
Sepekan ini, BUMI bergerak fluktuatif dengan kisaran terbatas. Level tertinggi berada di 1.780 dan terendah 1.650. Saham BUMI ditutup menguat Rp20 ke Rp1.710 pada Senin (30/9), menyusul reboundnya harga minyak mentah di atas level US$75/barel diikuti harga logam lainnya.
Namun, pada keesokan harinya, BUMI tergelincir Rp50 ke Rp1.660, dipicu penurunan laba bersih perseroan pada semester pertama 2010. BUMI melaporkan laba bersih merosot 30% menjadi US$ 134,6 juta dari periode yang sama 2009 sebesar US$ 192,3 juta. Pendapatan selama semester pertama 2010 mencapai Rp US$ 2,14 miliar, naik 25,15% dari US$ 1,71 miliar setahun lalu.
Etrading securities mengatakan, penurunan laba bersih BUMI dimulai dari lebih besarnya porsi COGS perusahaan terhadap total revenue, dimana pada 2009 porsi tersebut hanya sekitar 57% dan saat ini naik menjadi 63%.
Selain itu, kenaikan beban bunga yang sangat signifkan turut mempengaruhi kinerja laba BUMI. Beban bunga pada semester pertama 2009 sebesar US$ 47,86 juta, sedangkan pada periode semester pertama 2010 naik 538% menjadi US$ 257,44 juta.
Saham BUMI kembali melemah tipis pada Kamis (2/9) sebesar Rp10 ke level Rp1.690. Posisi ini tidak berubah hingga perdagangan akhir pekan. Kabar terbaru dari perseroan menyebutkan bahwa BUMI menargetkan dapat mengurangi posisi utangnya sebesar US$ 1,6 miliar hingga akhir 2011.
Penghematan beban bunga BUMI akan mencapai US$ 192 juta per tahun. Corporate Secretary BUMI, Dileep Srivastava mengatakan, skema pelunasan utang tersebut dilakukan dengan memangkas utang, bukan menambah utang baru. Rinciannya adalah pelunasan utang sebesar US$ 800 juta pada kuartal empat 2010 dan pelunasan utang sebesar US$ 700-800 juta pada 2011. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !