Minggu, 27 Mei 2012 | 01:55 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Kondisi Buruh AS Kini Mirip Era 'Great Depression'
Headline
glenbrookenews.com
Oleh: Vina Ramitha & Asteria
web - Minggu, 5 September 2010 | 19:59 WIB
INILAH.COM, Jakarta Senin (6/9) awal pekan ini, AS merayakan Hari Buruh ke 128. Hal ini untuk memperingati perjuangan keras para pekerja, yang mengalami kondisi teramat buruk pada abad ke 19. Seperti apa?

Berdasarkan buku American Labor, kaum perempuan bekerja 16-17 jam sehari pada 1834-1836 hanya untuk US$1,25-2,00 per pekan. Jika bekerja di penggilingan yang bukan milik serikat, upah mereka hanya US$4,20 per pekan. Sedangkan di tempat milik serikat, mendapatkan tiga kali lipatnya.

Mereka juga harus membeli benang dan jarum sendiri dari tuan tanah. Terlambat datang, maka upah itu akan dipotong sekenanya oleh mandor. Bagi yang mampu membeli mesin jahit, harus membawa-bawa sendiri mesin berat itu ke pabrik. Ketika ada pesanan, mereka tak boleh pulang hingga selesai.

Terkadang, sekeluarga ikut bekerja di pabrik itu, mulai matahari terbit hingga terbenam. Upaya protes selalu dibubarkan. Namun usaha keras para penjahit perempuan ini berujung pada unjuk rasa pertama yang sukses digelar pada 1825, di New York.

Demonstrasi demi demonstrasi terus berlanjut. Hingga terbentuknya National Labor Union (NLU) pada 1866, meski serikat ini bubar pada 1873. NLU menjadi pelopor sejumlah serikat buruh yang ada di AS hingga saat ini. Misalnya, pada musim semi 1872, seorang imigran Irlandia yang tidak puas bernama Peter McGuire, serta 100 ribu pekerja melakukan aksi mogok dan berbaris melalui jalan-jalan di New York City, menuntut pengurangan jam kerja.

Hari Buruh didedikasikan untuk kontribusi para pekerja AS dalam membangun negara yang kuat, makmur dan sejahtera. Namun, perayaan pertama kali sebenarnya lebih pada sebuah gerakan sosial berbasis hak, ketimbang libur atau berpesta di rumah seperti kebanyakan yang dilakukan rakyat AS saat ini.

Hal itu memang tidak salah, meskipun juga cukup ironis. Mengingat cara santai yang dilakukan pada hari libur tidak mungkin terealisasi tanpa usaha dari para pendahulu yang bekerja keras dan berpendirian kuat. Tanpa upaya mereka, mungkin hari buruh akan dirayakan dengan pergeseran jam kerja 12 jam per hari di pabrik besi lokal.

Kondisi para imigran dan pendatang yang sudah mendapat kewarganegaraan yang sangat buruk mewarnai pasar kerja AS selama 1800-an. Dari wilayah pemukiman padat, lingkungan kerja yang keras sangat umum ditemui pada abad kesembilan belas. Saat itu, para pekerja bekerja membanting tulang tanpa upah dan kepastian akan keamanan kerja mereka, dan umumnya tidak puas dengan posisi mereka di masyarakat.

Setelah hampir satu dekade pergolakan dan beberapa usaha gagal dari penyatuan para buruh, tenaga kerja Amerika akhirnya datang bersama-sama untuk parade perayaan Hari Buruh tidak resmi pertama pada Selasa, 5 September 1882, di New York City. Aksi ini dijalankan sesuai rencana Pusat Serikat Pekerja yang baru terbentuk.

Dengan pelbagai tanda protes yang menawarkan prinsip-prinsip seperti LABOR CREATES ALL WEALTH," dan "EIGHT HOURS FOR WORK, EIGHT HOURS FOR REST, EIGHT HOURS FOR RECREATION!, jelas para pekerja menginginkan lebih banyak hak serta penghargaan. Setelah perayaan / parade, digelar piknik di sekitar kota. Mereka makan sup Irlandia, roti buatan sendiri dan pie apel. Pada malam hari, kembang api pun dipasang.

Pusat Serikat Pekerja menggelar perayaan kedua Hari Buruh setahun kemudian pada 5 September1883. Berawal dari publisitas dua acara tahunan tersebut, gagasan menuntut hak-hak pekerja menyebar ke seluruh kawasan.

Pengakuan pemerintah untuk Hari Buruh pertama kali datang melalui tata kota yang disahkan pada 1885 dan 1886. Mereka mengembangkan gerakan untuk mengamankan undang-undang negara. Rancangan UU negara bagian pertama diperkenalkan ke legislatif New York, tapi pertama kali disahkan menjadi hukum oleh Oregon pada 21 Februari 1887.

Selama tahun itu, empat negara bagian yakni Colorado, Massachusetts, New Jersey, dan New York, membuat libur Hari Buruh Hari yang disahkan oleh legislatif. Pada akhir dekade, Connecticut, Nebraska, dan Pennsylvania mengikuti.

Sementara pada 1894, 23 negara-negara lain telah mengadopsi hari libur untuk menghormati para pekerja, dan pada 28 Juni tahun yang sama, Kongres menjadikan Senin pertama pada September setiap tahun sebagai libur umum di Distrik Columbia dan sekitarnya.

Terkait Hari Buruh 2010, ada kesamaan antara Great Depression dengan resesi yang terjadi baru-baru ini. Salah satunya adalah kurangnya kepercayaan, dimana konsumen mengkhwatirkan pekerjaan dan utang, sektor properti lesu, perbankan dan bisnis dilanda ketidakpastian.

Intinya adalah ide untuk tidak bekerja. Kondisi ini membutuhkan dorongan pemerintah untuk menggerakkan semuanya. Saat ini, AS mungkin membutuhkan stimulus tambahan, baik untuk pekerja yang bergabung dengan serikat maupun tidak. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.