INILAH.COM, Jakarta - Saham BUMI, Senin (6/9) diprediksi stagnan. Minimnya trigger dan simpang siurnya sentimen di sektor batubara menjadi pemicunya. Hold saja untuk saham sejuta umat ini. Pengamat pasar modal, Satrio Utomo mengatakan, potensi stagnannya saham PT Bumi Resources (
BUMI) awal pekan ini, salah satunya karena faktor belum adanya berita-berita baru yang bisa menggerakkannya (
trigger) saham ini.
Di sisi lain, pergerakan BUMI juga tidak terpengaruh sentimen fundamental seperti kenaikan harga batubara. Menurutnya, saham BUMI sangat tergantung pada bagaimana arah
mood pasar.
Saham BUMI sangat sulit keluar dari kisaran
flat-nya di posisi
support Rp1.650 dan
resistance Rp1.750, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (5/9).
Akhir pekan lalu, Jumat (3/9), saham BUMI ditutup stagnan di level Rp1.690. Harga tertingginya mencapai Rp1.710 dan terendah Rp1.660. Volume transaksi mencapai 63,09 juta unit saham senilai Rp106,1 miliar dan frekuensi 1.631 kali.
Satrio melanjutkan, meski harga batubara menguat ke level US$93,90 per metrik ton dari sebelumnya US$91, hal itu tidak berpengaruh positif bagi saham BUMI. Sebab, pekan lalu, saham-saham di sektor batubara secara umum pun berada dalam tekanan, ujarnya.
Di antaranya, saham PT Indo Tambangraya Megah (
ITMG) terkoreksi akibat divestasinya. Di sisi lain, pasar mencermati koreksi saham PT Adaro Energy (
ADRO), yang juga masih belum jelas apa alasannya.
Rumornya, sangat kencang, Edward Soeryajaya yang melepas saham ini. Dia berada dalam posisi jual. Tapi, tidak jelas apa alasan keluarnya. Inilah yang memicu saham ADRO tertekan. Harga batubara memang menguat signifikan, tapi sentimen saham-saham batubara masih negatif, tukasnya.
Menurutnya, banyak pelaku pasar yang berspekulasi ke mana-mana terkait saham ADRO. Posisi saham ini pun bagai bola liar. Karena itu pula, sentimennya tidak menentu untuk saham-saham di sektor batubara termasuk BUMI, ucapnya.
Satrio menegaskan, pergerakan di saham BUMI bukan semata faktor harga batubara. Pasar lebih memperhatikan pergerakan saham ITMG setelah divestasi, dan kejelasan terkait tekanan jual di saham ADRO. Saham-saham sektor batubara yang lain terpengaruh termasuk BUMI, tandas Satrio.
Sebelumnya, ADRO dirumorkan melakukan
placement, tapi dibantah juga oleh perseroan sehingga semuanya masih simpang siur. Ada juga yang mengatakan, karena faktor JP Morgan yang akan mengeluarkan laporan
underperfomed untuk ADRO. Sebab, kinerja ADRO di semester pertama dianggap biasa-biasa saja, ungkapnya.
Di sisi lain, Satrio tidak sependapat, stagnannya saham BUMI karena faktor
Initial Public Offering (IPO) PT Harum Energi sehingga investor beralih ke saham tersebut. Sebab, saham BUMI memiliki penggemarnya tersendiri.
Mungkin ada yang jual saham BUMI kemudian membeli saham Harum Energi, tapi yang melakukan itu tidak banyak. Sebab,
fund manager yang memegang BUMI pun sudah tidak banyak lagi, paparnya.
Dari sisi grup Bakrie, BUMI mendapat sentimen positif. Sebab, dipertahankannya Rinaldi Firmansyah sebagai Direktur Utama PT Telkom, memicu spekulasi dan optimisme pasar atas kelangsungan penjajakan
joit venture Flexi dan PT Bakrie Telecom (
BTEL). Ini sentimennya akan bagus bagi saham-saham Bakrie secara keseluruhan termasuk BUMI, ujarnya.
Namun semuanya sangat tergantung kepada kondisi market regional. Sejauh ini, indeks Dow Jones masih naik. Tapi di sisi lain, saat ini merupakan hari jelang libur bursa, karena Lebaran 1431 Hijriyaah. Yang terjadi di pasar saham sangat tergantung apakah investor berani mengambil risiko atau tidak, tukasnya.
Jika Senin (6/9) nanti malam, terjadi
reversal melemah di Dow Jones, investor cenderung
sell off, merealisasikan keuntungan. Pasar tidak berani mengambil risiko selama liburan panjang. Dari pada liburan punya beban pikiran, lebih baik mengambil posisi kosong, ucapnya.
Di atas semua itu, Satrio merekomendasikan,
hold untuk saham BUMI. Jika level
support Rp1.650 bisa ditembus ke bawah, level Rp1.500 sangat menarik bagi investor untuk melakukan akumulasi, pungkas Satrio. [mdr]