Selasa, 29 Mei 2012 | 04:08 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Musim Gunung Api Bergolak?
Headline
washingtonpost.com
Oleh: Billy A Banggawan
web - Senin, 6 September 2010 | 10:53 WIB
INILAH.COM, Jakarta Setelah gunung Eyjafjallajokul Islandia mendominasi media selama berminggu-minggu kini Gunung Sinabung meletus. Apakah letusan beruntun itu menandakan sesuatu yang jauh lebih serius? Apakah letusan gunung berapi sedang meningkat?
Kabar baiknya, menurut Lee Siebert adalah tidak. Ia adalah direktur Smithsonian Global Volcanism Program (GVP) yang bertanggung jawab mendokumentasikan, menganalisa dan menyebarkan informasi mengenai gunung berapi aktif.
GVP memiliki data yang menunjukkan apa yang terjadi di dalam kerak bumi. Jika anda mem-plot data 200 tahun terakhir, jelas ada peningkatan dalam jumlah letusan dari waktu ke waktu, kata Siebert. Tapi jumlah letusan itu bukan masalah sebenarnya melainkan laporan efeknya.
Secara khusus GVP menyoroti letusan gunung api dengan peningkatan populasi global. Karena kini makin banyak orang yang tinggal di daerah vulkanik. Namun teknologi yang lebih baik membuat lebih sulit bagi gunung api meletus tanpa diketahui.
Jika melihat data dari waktu ke waktu, akan terlihat puncak dan lembah tren secara keseluruhan, kata Siebert. Banyak puncak atau lembah dapat dikaitkan dengan peristiwa tertentu. Sebagai contoh, ada palung menonjol saat Perang Dunia I dan Perang Dunia II di mana saat itu banyak perhatian orang terfokus pada isu-isu lain.
Selama periode perselisihan global tersebut, Siebert mengatakan tidak banyak catatan letusan. Sebaliknya, laporan melonjak mengikuti letusan Krakatau yang dramatis pada 1883 dan Gunung Pelee pada 1902.
Pengamatan terhadap vulkanologi global tercatat stabil sepanjang sejarah. Peristiwa itu harus dilihat dalam perspektif geologi, mencakup jutaan hingga miliaran tahun, untuk melihat perubahan besar atau menunjukkan letusan yang lebih besar daripada tujuh skala Volcanic Explosivity Index (VEI). Letusan sebesar itu adalah jenis Yellowstone kadang disebut juga sebagai supervolcanoes, kata Siebert.
Lalu apa yang menyebabkan aktivitas vulkanis global meningkat? Bukan gerakan singkat di kerak planet, menurut Yakub B Lowenstern dari Survei Geologi Amerika Serikat.
Teori lempeng tektonik membagi permukaan bumi (atau litosfer) menjadi bagian raksasa yang saling berhubungan. Kadang-kadang lempeng ini bergesekan satu dengan yang lain saat mengubah batasnya.
Peristiwa subduksi (proses mendorong satu lempeng di bawah yang lain) terjadi dan menimbulkan pegunungan, menyebabkan gempa bumi dan menyebabkan aktivitas gunung berapi. Kebanyakan plat tektonik mendorong aktivitas vulkanik, kata Lowenstern.
Dalam dalam jangka waktu geologi tertentu, proses-proses ini bisa dibilang hidup dan mati. Zona subduksi muncul dan hilang. Daerah panas dihasilkan dan berkembang selama jutaan tahun kemudian berhenti. Jadi akibat efek tersebut, akan mengalami peningkatan aktivitas vulkanis atau pada daerah tertentu mengalami penurunan vulkanisme bahkan secara global.
Pembentukan dan mencairnya gletser es secara teori juga dapat mempengaruhi aktivitas vulkanik. Tetapi untuk menemukan contoh kemungkinannya, Siebert mengatakan harus melihat kembali ke awal masa Holosen epoch 10 ribu tahun lalu.
Ada penurunan di kerak bumi akibat es glasial zaman es, imbuh Siebert. Es itu mencair kembali dan menghasilkan efek pembalikan yang terkait dengan meningkatnya letusan gunung berapi selama waktu itu.
Namun, Siebert dan Lowenstern menekankan bahwa hubungan antara mencairnya es gletser dan meningkatnya aktivitas vulkanis masih sangat jauh. Jauh lebih rumit karena es mencair di satu tempat dan air itu menuju tempat lain, papar Lowenstern.
Jadi mungkin mengalami penurunan tekanan di lintang utara akibat pencairan es, tetapi mungkin mengalami peningkatan kedalaman laut di selatan yang mungkin menahan magma agar tidak meletus. Bahkan sebenarnya hal ini bukanlah hubungan sederhana antara peningkatan dan penurunan tekanan vulkanis.
Beberapa faktor lain juga mempengaruhi aktivitas vulkanis planet, yang beberapa bagian belum sepenuhnya dimengerti oleh ilmuwan. Jadi sementara beberapa studi memprediksi perubahan iklim di masa depan mungkin akan menghasilkan efek pembalikan, iklim biasanya memainkan peran tidak langsung. Aktivitas vulkanis biasanya mempengaruhi iklim, kata Lowenstern, bukan sebaliknya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.