Selasa, 29 Mei 2012 | 05:02 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Inilah 3 Skenario Perpindahan Ibu Kota
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh:
web - Senin, 6 September 2010 | 00:01 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Wacana perpindahan ibukota akan ditindaklanjuti usai libur Hari Raya Idul Fitri 1431 Hijriah.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II membicarakan kerangka perencanaan secara komprehensif dalam menyusun kebijakan perpindahan ibukota.

Ada tiga skenario perpindahan ibukota. Pertama, skenario realistis, yakni ibukota tetap di Jakarta. Jakarta akan ditata, dibenahi, dan diperbaiki.

Berbagai persoalan Jakarta, seperti kemacetan, urbanisasi, degradasi lingkungan, kemiskinan urban, banjir, maupun tata ruang wilayah, bakal diatasi.

"Kebijakan ini harus diikuti dengan desentralisasi fiskal dan penguatan otonomi daerah untuk mengurangi kesenjangan antar daerah," kata Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah, Velix Wanggai.

Skenario kedua adalah skenario moderat. Dalam konteks ini, Presiden menawarkan agar pusat pemerintahan dipisahkan dari ibukota negara.

Artinya, Jakarta akan tetap diletakkan sebagai ibukota negara karena faktor historis. Namun, pusat pemerintahan akan digeser atau dipindahkan ke lokasi baru.

"Tentu saja, perlu dipertimbangan faktor jarak antara Jakarta sebagai ibukota dan pusat pemerintahan baru, khususnya terkait dengan infrastruktur wilayah, jaringan transportasi yang terpadu, serta prasarana pendukung lainnya," ujar Velix.

Sedangkan skenario ketiga adalah membangun ibukota negara yang baru dan menetapkan pusat pemerintahan baru di luar wilayah Jakarta, sedangkan Jakarta hanya dijadikan sebagai pusat bisnis.

"Skenario radikal itu memerlukan strategi perencanaan yang komprehensif dengan berbagai opsi penentuan calon ibukota baru," jelas Velix.

Presiden, lanjutnya, tetap mengajak para pemangku kepentingan, seperti pemerintah daerah, dunia usaha, kalangan universitas, dan lembaga swadaya masyarakat, untuk memberikan masukan bagi penyempurnaan kajian-kajian yang dilakukan pemerintah.

"Presiden terbuka apabila para pakar dan lembaga swadaya masyarakat ingin menyampaikan kajian yang telah mereka selesaikan secara mandiri. Intinya, pemerintah ingin agar proses menuju perencanaan perpindahan ibukota dilakukan secara partisipatif," katanya. [ant/bar]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
3 Komentar
bambang
Jumat, 10 September 2010 | 18:50 WIB
bukan ibukotax yg dipindah, tp isi dr pera pelakon di pemerintahanx yg di pindahkan semua alias diganti, kasi yg muda2 lah skarang.dan jng campuri saat mereka mulai kerja... saya yakin indonesia akan maju dan disegani dunia.. gk kyk skr ini indoneisa di bilang aneh.. kenapa orng bule bilang aneh.. ternya alasanx masuk akal juga... dia bilang indonesia tuh negara yg aneh berlimpah hasil alamnya ko negaranya miskin.. heheheh ya kan ....
Bambang Kristanto
Rabu, 8 September 2010 | 08:02 WIB
Saya sangat setuju kalau ibu kota negara dipindahkan ke Kalimanatan, alasannya: 1. Kalimantan relatif aman dari gempa bumi. 2. Dengan status ibu kota di sana pasti Malaysia tidak berani macam-macam, karena pusat kekuatan dekat dengan mereka. 3. Probelmatika rutin di Jakarta, pasti akan turun drastis. Ibarat liburan lebaran.
nevido
Senin, 6 September 2010 | 14:58 WIB
kasian kota baru yg bakalan jadi ibukota, nasibnya gak akan beda setelah dijadikan ibukota nanti : MACET, DEGRADASI LINGKUNGAN dan POLUTED...
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.