inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Djoko Retnadi

Deflasi Januari Lebih Dalam

Headline
Djoko Retnadi - istimewa
Oleh: Ahmad Munjin
Senin, 2 Februari 2009 | 07:04 WIB
INILAH.COM, Jakarta Merosotnya harga komoditas disinyalir masih akan menjadi penyumbang utama dalam inflasi di awal tahun 2009. Deflasi pun diperkriakan masih akan mewarnai ekonomi domestik, minimal selama triwulan pertama 2009.

Deputy General Manager Micro Banking BRI Djoko Retnadi meramalkan deflasi bulan Desember masih akan berlanjut pada bulan Januari ini. Adapun angkanya diperkirakan lebih dalam dibanding bulan lalu. "Jika Desember 2008 terjadi deflasi 0,04% maka pada Januari deflasi lebih dalam pada level 0,05% hingga 0,07%," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta.

Menurutnya, penurunan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diikuti penurunan harga minyak goreng memberi kontribusi cukup besar terhadap deflasi Januari 2009. Sementara itu, meskipun ia mengakui adanya penurunan daya beli, namun hal ini dinilai belum separah yang diperkirakan. Sehingga belum menyumbang pada tingkat inflasi kali ini.

Berikut ini petikan lengkap wawancaranya.

Bagaimana prediksi inflasi Januari 2009?
Kalau melihat fenomena Desember kemarin, sepertinya akan terjadi lagi deflasi. Angkanya juga kurang lebih sama dengan bulan Desember. Kalau Desember 0,04%, deflasi Januari mungkin lebih dalam 0,05% hingga 0,07%. Sedangkan karena year on year Desember 11,06%, maka untuk Januari lebih rendah dari itu.
Dulu orang khawatir terdepresiasinya rupiah dapat meningkatkan inflasi, tapi ternyata tidak. Deflasi ini akan terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Saya optimis sampai triwulan I masih akan terjadi deflasi.

Sektor apa yang menyumbang deflasi cukup besar?
Penyumbang utama deflasi adalah penurunan komoditi, harga minyak. Jadi penurunan BBM itu ditransmisikan ke harga barang-barang komoditi. Kemudian minyak goreng juga. Saya kira lebih banyak ke makanan. Selain itu, karena inflasi sekarang menyangkut barang-barang konsumsi, tentunya untuk harga barang-barang yang naik seperti mobil atau kendaraan bermotor, sedikit banyak berpengaruh pada rendahnya daya beli. Artinya deflasi juga merupakan akumulasi antara penurunan harga komoditi, dan rendahnya daya beli, akhirnya menciptakan deflasi.
Tapi kalau daya beli, saya pikir belum separah yang diperkirakan orang. Belum ada orang tidak bisa makan karena tidak kuat beli. Memang daya beli turun, tapi belum parah. Jadi terjadinya deflasi lebih karena penurunan harga komoditi.

Apakah dampak deflasi ini positif bagi perekonomian Indonesia?
Saya kira positif sekali karena ini sejalan dengan penurunan suku bunga. Nanti dampaknya akan direspons BI rate dengan menurunkan suku bunga acuannya lagi. Itu dampak positifnya.
Kemudian, kalau BI rate sudah turun di kisaran yang cukup wajar, BI bisa terus memangkas hingga 100 basis poin. Sehingga, perbankan bisa lebih cepat menurunkan suku bunganya. Meskipun tidak banyak, tapi akan merespon dengan cepat. Penurunan BI rate bulan Desember masih direspons lambat oleh perbankan, belum ada reaksi sama sekali.

Prediksi kebijakan bank sentral soal BI rate Februari seperti apa?
Saya kira dalam RDG kali ini, BI bisa menurunkan suku bunganya 100 bps. Karena di kawasan regional, BI rate masih sangat tinggi. Saat ini masih di atas 8%. Menurut saya, tren BI rate di kisaran 7%. Bahkan, mestinya lebih rendah, tapi konsentrasi turun dulu di 100 bps atau 1%.

Berapa bunga perbankan yang ideal dengan penurunan 100 basis poin?
Seharusnya perbankan menurunkan suku bunga in line dengan BI rate, 1% juga. Jangan sampai tidak. Karena penurunan BI rate ini ditunggu-tunggu untuk menggerakkan sektor riil. Selain mempertahankan kredit konsumsi untuk mempertahankan daya beli masyarakat. Kalau penurunan bunga perbankan kalah cepat dari BI rate, tidak ada gunanya. Tapi saya pikir bank akan merespon, soalnya kalau daya beli menurun, kredit konsumsi juga tidak naik.

Saya harap perbankan benar-benar menurunkan suku bunga, karena persoalan utama saat ini bukan bunga, tapi psikologis makro, khususnya kepercayaan pada bank menengah kecil. Jadi itu harus dipulihkan oleh perbankan dengan penurunan suku bunga. Pemerintah juga memberi andil, misalnya menjamin sampai Rp500 miliar, atau Rp1 triliun untuk pasar uang antar bank. Selama ini, suku bunga perbankan sulit turun karena yang dijamin Rp2 miliar hanya dana pihak ketiga, sedangkan pasar uang antar bank tidak. Pasar uang pun tidak jalan. (E2)
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.