INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan Selasa (7/9) pagi, Rupiah berada di kisaran 9.005-9.015 atau melemah tiga poin dibandingkan penutupan kemarin di kisaran 9.002.
Analis valas Bank Rakyat Indonesia, Rahadyo Anggoro mengatakan rupiah akan tetap stabil di kisaran 9.000 meskipun kemarin sempat menguat di kisaran 8.995. Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh mata uang dolar AS uang menguat terhadap euro. Penguatan mata uang dolar AS dipicu pengumuman data ekonomi AS yang relatif baik dibandingkan ekspektasi pasar.
Selain itu, Rahadyo menuturkan minat investor asing berinvestasi di Indonesia memberikan sentimen positif untuk rupiah. Investor asing menanamkan dana di pasar modal sehingga diikuti dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 3.200. "Asing masih berminat berinvestasi di Indonesia. Hal ini karena pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan naik di atas 6% pada kuartal ketiga 2010," ujar Rahadyo, saat dihubungi INILAH.COM, Selasa (7/9).
Rahadyo menambahkan Bank Indonesia (BI) memprediksikan pertumbuhan ekonomi relatif stabil pada kuartal ketiga 2010. Kebijakan BI yang mengetatkan likuiditas rupiah untuk menekan inflasi berpengaruh terhadap pergerakan rupiah. "Rasio giro wajib minimum (GWM) akan dinaikkan dari 5% menjadi 8% pada awal November 2010 akan membuat rupiah cepat menguat karena nasabah dan institusi akan melepas dolar AS," kata Rahadyo.
Selain itu, menurut Rahadyo, menjelang liburan lebaran tidak terlalu signifikan terhadap rupiah. Pelaku pasar cenderung masuk ke pasar modal dan menempatkan dana di pasar modal. "Rupiah akan berada di kisaran 9.000-9.030 hari ini," tambah Rahadyo. [cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !