inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Dukungan Melalui Facebook

'Kita Semua Ada di Belakang Kolonel Adjie'

Headline
IST
Oleh: Abdullah Mubarok
Rabu, 8 September 2010 | 03:05 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Keberanian anggota TNI Angkatan Udara (AU) Kolonel Adjie Suradji mendapat dukungan di situs jejaring sosial, Facebook.

'Ki-es Sebelas', orang yang mengaku sebagai pengurus, menamai gerakan mendukung Kolonel Adjie dengan slogan 'Kita Semua Ada Dibelakang Kolonel Adjie Supardji'.

Belum bisa diketahui kapan akun tersebut dibuat. Sampai berita ini diturunkan, Rabu (8/9) pagi, baru puluhan orang tergabung. Sepertinya, umur grup FB ini belum sampai 24 jam.

Foto Kolonel Adjie Suradji berseragam dinas dipasang. Di dinding, facebooker bernama Slemer Budianto Armstrong mengaku salut dengan Kolonel Adjie.

"Saluttttttttttt.........dan memang sudah seharusnya seperti itulah seorang pemimpin," tulis Slemer.

Selain itu, Ki-es Sebelas menuliskan rasa simpatinya kepada Kolonel Adjie. Berikut pernyataannya:

hanya karena profesi, seseorang dilarang bicara.
hanya karena jabatan, kebenaran harus dibelenggu
jika seperti ini, apa bedanya dengan orde baru?????

jangan kita biarkan beliau di "susno"kan, di "AA"kan, maupun di "munirkan", apalagi di "Baharudin Lopa"-kan...
kita butuh org yg berani untuk bicara kebenaran, bukan org dari "luar", tapi orng dari "dalam".
.

Sebagaimana diberitakan, Kolonel Adjie menulis opini berjudul 'Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan' di halaman opini harian Kompas yang mengkritik kepemimpinan Presiden SBY.

Adjie menguraikan mengenai seorang pemimpin ideal dengan upaya pemberantasan korupsi yang tak kunjung tuntas. Dia menulis Indonesia sudah dipimpin oleh 5 presiden yang masing-masing mempunyai ciri kepemimpinan tersendiri.

"Namun sayang hingga presiden keenam (SBY) ada hal yang buruk yang belum berubah yaitu perilaku korup para elite negeri. Akankan korupsi menjadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab," tulis Adjie. [mah]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
11 Komentar
petani @ Minggu, 19 September 2010 | 23:07 WIB
Salah kita juga rakyat, kenapa milih orang "pinter" jadi presiden. karena orang pinter biasa banyak takutnya. sama malaysia takut, sama dpr takut, apalagi sama kritik... Kemudian ambil keputusan aja lamban. he... he... mau dibawa kemana negeri tercinta ini ????? INNALILLAHI, musibah....
pasca guna @ Kamis, 16 September 2010 | 13:42 WIB
Pak kolonel yg bersifat kritis pd pemerintah wajib didukung. jarang yg seperti beliau di negri kita. rupanya beliau paham betul pemerintah kita saat ini. seperti pemerintah dagelan...........
lumuthijau11@yahoo.co.id @ Sabtu, 11 September 2010 | 16:26 WIB
Negara kita ini lucu yah..>>>..Apakah karna terlalu byk pelawaknya
lumut hijau @ Sabtu, 11 September 2010 | 16:16 WIB
bukankah dgn kritik,suatu pemerintahan akan berjalan sesuai dgn apa yg diidamkan oleh rakyatnya....tp kalau pemimpin tdk mau menerima kritik berarti pemimpin itu sifatnya DIKTATOR..negara kita adlh demokrasi...tp kok jalanya kayak diktator....jgn takut pak kolonel...anda adalah seorang yg berkata jujur ditgh2kebohongan negri ini....
hijau lumut @ Sabtu, 11 September 2010 | 16:04 WIB
maju terus pak kolonel...koruptor keles elite memang tak pernah ada yg mendapat hukuman yg setimpal...dan smuax berlarut2....coba kalau pencuri ayam...ditangkap hari ini...lusa sdh ada ptsn hukumanx....
yuwono @ Sabtu, 11 September 2010 | 12:58 WIB
Tidak sepantasnya anggota tni aktif mengkritik atasannya lewat media. itu namanya bodoh, cengeng. haram bagi tni.
nahdiantono @ Jumat, 10 September 2010 | 20:31 WIB
pemimpin yg besar adalah pemimpin yg mau merima kritik/saran, pemimpin janganlah sombong, merasa benar sendiri, masih banyak mesyarakat miskin di negeri ini yg memerlukan perhatian dari pemerintah...bagaimana Indonesia bisa maju bila tidak ada yg mengkritisi...!!!???
one @ Kamis, 9 September 2010 | 21:13 WIB
wahai bangsa indonesia ingatlah, rupanya firaunisme sudah merasuk kedalam jiwa para pemimpin kita, mereka berlagak bak tuhan, subhanallah, astagfirullah!
andawali @ Rabu, 8 September 2010 | 20:39 WIB
Saya kira para pemimpin kita paham benar bagaimana seharusnya bersikap dalam menerima kritikan. Bahwa SWOT bisa menjadi TOWS. Bahwa kritikan dapat disamakan dengan tantangan dan patut dijadikan kesempatan dan kelemahan patut dijadikan kekuatan. Kenapa harus ribet? seharusnya para pemimpin berterima kasih kepada orang yang berani mengkritik karena yang pantas menilai adalah orang lain bukan diri sendiri.Berbesar hatilah wahai para pemimpin, apakah kurang sopan santun jika mengkritik di media ataukah lebih baik dijalanan berteriak-teriak?
endri purnanto @ Rabu, 8 September 2010 | 12:12 WIB
kritik belum tentu orang itu gak suka karena kritik atau teguran bsa membuat qta instropeksi dan gak perlu dengan emosi menjawabnya,rosul aja yang sesempurnanya manusia masih menerima kritik
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.