INILAH.COM, Jakarta - Jurnalis Jepang menipu penculiknya dengan menggunakan Twitter untuk mengirim pesan ke pihak luar bahwa dirinya masih hidup.
Jurnalis Jepang Kosuke Tsuneoka disandera di Afghanistan selama lima bulan. Meskipun begitu, ia berhasil mengirim pesan ke Twitter bahwa ia masih hidup saat penculiknya bertanya soal cara penggunaan ponsel.
Beberapa hari sebelum dibebaskan, Tsuneoka mengatakan bahwa salah seorang militan membawa ponsel baru dan meminta tawanan untuk mengaktifkannya.
Para militan muda tampak tertarik mengakses media Al-Jazeera lewat ponsel namun Tsuneoka berhasil mengalihkan perhatian mereka ke Twitter. Jurnalis ini berhasil membuat penculik penasaran untuk mengetahui cara penggunaan jejaring sosial tersebut.
Inilah cara saya mengirimkan pesan keluar, kata Tsuneoka pada konferensi pers di Tokyo saat tiba kembali di Jepang, Selasa (7/9) . Saya yakin mereka tidak akan pernah sadar kalau sudah dikelabui.
Beberapa hari setelah penipuan tersebut, para militan yang diindentifikasi sebagai anggota Hizb-e-Islami ini membebaskannya karena Tsuneoka adalah seorang muslim. Ia masuk Islam pada 2000.
Tsuneoka diculik pada April lalu saat mengunjungi area Taliban di kawasan utara Afghanistan.
Pengalaman menjadi korban penculikan milisi bersenjata itu tidak membuat Tsuneoka kapok dan enggan kembali ke Afghanistan.
Saya siap untuk kembali ke sana, kata pria ini. Setelah semua masalah ini, Saya harus berpikir cara untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. [nic]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !