INILAH.COM, Medan - Kritik pedas yang dilakukan Kolonel Adjie Suradji akan membawa malapetaka bagi dirinya sendiri. Kritik terhadap atasan dalam militer secara terbuka sama saja dengan 'bunuh diri'.
"Sebagai seorang militer harusnya dia sadar berbuat seperti itu sama saja dengan nekat bunuh diri," kata mantan Komandan Pasukan Pengamanan Udara Presiden Soekarno, Laksamana TNI (purn) Eddy Tumengkol.
Kritik lewat media secara terbuka terhadap atasan apalagi terhadap presiden sebagai panglima tertinggi TNI, merupakan kesalahan nyata. Eddy menyebutkan seorang berpangkat Kolonel harusnya mengetahui saluran untuk mengkritik atasan.
"Kritik seperti itu memang tidak ada dalam kode etik, hanya kritik itu tidak pada tempatnya dengan cara terbuka," sebutnya.
Eddy juga menegaskan, sebuah ketidaklaziman dalam institusi militer seorang bawahan mengkritik atasan. Ini juga dapat muncul karena lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh atasan terhadap bawahan.
Menurutnya, pengawasan yang dilakukan pimpinan terhadap bawahan dalam militer akan menentukan tingkat displin.
"Awal kejadian ini muncul disebabkan kurangnya pengawasan displiner internal militer. Dan ini pasti ada yang mempengaruhinya. Harus dicari latar belakangnya mengapa terjadi demikian," kata mantan Kepala Protokol Rumah Tangga Kepresidenan ini.
Namun, Eddy membantah jika perbuatan yang dilakukan Adjie tersebut karena doktrin militer mengendur selaras dengan perkembangan demokrasi pasca reformasi.
"Ini tidak dapat dipukul rata untuk semua. Tren ini tidak bisa digeneralisir. Ini hanya pembinaan yang kurang dari angkatan," katanya lagi.
Sebagaimana diberitakan, Kolonel Adjie menulis opini berjudul 'Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan' di halaman opini harian Kompas yang mengkritik kepemimpinan Presiden SBY.
Adjie menguraikan mengenai seorang pemimpin ideal dengan upaya pemberantasan korupsi yang tak kunjung tuntas. Dia menulis Indonesia sudah dipimpin oleh 5 presiden yang masing-masing mempunyai ciri kepemimpinan tersendiri.
"Namun sayang hingga presiden keenam (SBY) ada hal yang buruk yang belum berubah yaitu perilaku korup para elit negeri. Akankan korupsi menjadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab," tulis Adjie. [wol/bar/mah]