inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Sesepuh TNI: Kolonel Adjie 'Bunuh Diri'

Headline
Adjie Suradji - IST
Oleh:
Kamis, 9 September 2010 | 05:04 WIB
INILAH.COM, Medan - Kritik pedas yang dilakukan Kolonel Adjie Suradji akan membawa malapetaka bagi dirinya sendiri. Kritik terhadap atasan dalam militer secara terbuka sama saja dengan 'bunuh diri'.

"Sebagai seorang militer harusnya dia sadar berbuat seperti itu sama saja dengan nekat bunuh diri," kata mantan Komandan Pasukan Pengamanan Udara Presiden Soekarno, Laksamana TNI (purn) Eddy Tumengkol.

Kritik lewat media secara terbuka terhadap atasan apalagi terhadap presiden sebagai panglima tertinggi TNI, merupakan kesalahan nyata. Eddy menyebutkan seorang berpangkat Kolonel harusnya mengetahui saluran untuk mengkritik atasan.

"Kritik seperti itu memang tidak ada dalam kode etik, hanya kritik itu tidak pada tempatnya dengan cara terbuka," sebutnya.

Eddy juga menegaskan, sebuah ketidaklaziman dalam institusi militer seorang bawahan mengkritik atasan. Ini juga dapat muncul karena lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh atasan terhadap bawahan.

Menurutnya, pengawasan yang dilakukan pimpinan terhadap bawahan dalam militer akan menentukan tingkat displin.

"Awal kejadian ini muncul disebabkan kurangnya pengawasan displiner internal militer. Dan ini pasti ada yang mempengaruhinya. Harus dicari latar belakangnya mengapa terjadi demikian," kata mantan Kepala Protokol Rumah Tangga Kepresidenan ini.

Namun, Eddy membantah jika perbuatan yang dilakukan Adjie tersebut karena doktrin militer mengendur selaras dengan perkembangan demokrasi pasca reformasi.

"Ini tidak dapat dipukul rata untuk semua. Tren ini tidak bisa digeneralisir. Ini hanya pembinaan yang kurang dari angkatan," katanya lagi.

Sebagaimana diberitakan, Kolonel Adjie menulis opini berjudul 'Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan' di halaman opini harian Kompas yang mengkritik kepemimpinan Presiden SBY.

Adjie menguraikan mengenai seorang pemimpin ideal dengan upaya pemberantasan korupsi yang tak kunjung tuntas. Dia menulis Indonesia sudah dipimpin oleh 5 presiden yang masing-masing mempunyai ciri kepemimpinan tersendiri.

"Namun sayang hingga presiden keenam (SBY) ada hal yang buruk yang belum berubah yaitu perilaku korup para elit negeri. Akankan korupsi menjadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab," tulis Adjie. [wol/bar/mah]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
3 Komentar
Salah Berpikir peYang @ Sabtu, 11 September 2010 | 19:10 WIB
Di Negeri Democrazi spt Indonesia ini orang boleh berbicara apa saja dan boleh mengkritik siapa saja bahkan pimpinan sendiri kalo memang pimpinan itu punya kelemahan dan kesalahan. Teruskan kritikmu pak Adji ini bukan zaman kerajaan lagi yang penting kritik utk kemajuan bersama.
don lusa @ Kamis, 9 September 2010 | 21:34 WIB
Pak kolonel jika anda mau mengkritisi Presiden alias panglima tertinggi ada baiknya pikiran-pikiran anda beserta solusinya dikemukakan dilemhanas. Tetapi jika anda tidak ada keberanian berbicara disana sebaiknya anda minta pensiun dulu, kemudian setelah anda pensiun maka lakukanlah kritikan-kritikan tajam diberbagai seminar untuk kemudian menghasilkan solusi pemecahan secara taktis.
MUniran @ Kamis, 9 September 2010 | 08:57 WIB
Terlalu berlebihan deh..
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.