INILAH.COM, Jombang - Julukan dukun cilik yang disandang Muhammad Ponari, 9, ternyata berbuah protes. Dengan polos, bocah kelas III SD asal Jombang, Jawa Timur, itu mengaku menolak mendapat julukan tersebut.
"Kalau disebut dukun cilik saya tidak mau. Saya lebih suka dipanggil bocah penolong," kata anak pasangan Kosim dan Romlah ini, dengan nada kesal, saat ditemui dikediamannya, Kamis (5/2).
Hal itu juga dibenarkan Romlah, ibu Ponari. Menurutnya, selama dijuluki 'dukun cilik', bocah yang kesehariannya dikenal pendiam itu merasa tertekan mentalnya. Bahkan, setiap kali ketemu dengan beberapa wartawan yang mencoba untuk wawancara, Ponari merasa enggan untuk diajak bicara.
"Saya sendiri kurang setuju kalau Ponari dipanggil dukun cilik," kata Romlah.
Bukan hanya itu, hampir selama nama Ponari kondang, karena semakin banyaknya pasien yang membludak, bangku pendidikan secara tidak langsung pun ditinggalkannya. Namun demikian, Ponari tidak langsung putus asa. Ia kini mendapatkan pendidikan secara privat.
Kisah Ponari memang cukup fenomenal di Jawa Timur. Baru dua hari membuka praktiknya di Dusun Kedungsari Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, ia langsung dibanjiri ribuan pasien.
Sayangnya, dukun cilik itu akan menutup praktiknya mulai Kamis hingga Minggu (8/2). Padahal, pasiennya telah melewati angka 8.000 orang hanya dalam waktu dua hari ia menggelar praktik.
Alasan penutupan praktik, seperti dijelaskan Kapolsek Megaluh AKP Sutikno, karena selama empat hari akan diadakan perbaikan jalan. Sebab, selama ini jalan menuju rumah dukun cilik itu mengalami rusak berat. [beritajatim/nuz]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !