INILAH.COM, Jakarta - Iklan politik terbaru PKS yang menampilkan perseteruan politik para elit diakui PKS sebagai bentuk kritik atas perilaku para elit yang telah membuat rakyat bingung. PKS juga menyadari iklan terbarunya itu pasti akan menuai kontroversi.
"Iklan itu sejenis parodi yang mengkritik kondisi politik saat ini yang sebenarnya tidak perlu ada perseteruan-perseteruan yang akhirnya merugikan rakyat. PKS hanya ingin mencoba menyadarkan kalau semua itu bisa diselesaikan dengan kepala dingin," jelas Ketua DPP PKS Mahfudz Siddiq kepada INILAH.COM di Jakarta, Jumat (13/2).
PKS, lanjut Mahfudz, melihat masyarakat saat ini mulai kebingungan dengan kondisi politik yang semakin memanas menjelang pemilu. Terutama dengan perseteruan para elit politik. "Dengan kondisi itu, PKS ingin memberikan pendidikan politik agar masyarakat jangan bingung. Masyarakat harus lebih cerdas melihat partai yang dia pilih salah satunya adalah PKS," tukasnya.
Dalam iklan yang berdurasi sekitar 30 detik tersebut PKS mengangkat beberapa konflik mulai dari 'yoyo' Megawati Soekarnoputri melawan SBY yang saling berbalas kritik awal Febuari lalu. Peseteruan yang berawal dari ucapan Megawati saat Rapimnas PDIP di Solo yang menilai SBY mempermainkan rakyat seperti permainan yoyo yang naik turun itu ditampilkan PKS di awal iklannya.
Setelah 'yoyo', perseteruan antara Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla dengan Wakil Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar Sri Sultan juga tak luput dimainkan PKS. Dalam iklan itu, PKS hanya mnampilkan potongan-potongan berita di media massa dengan judul JK intervensi Sultan.
Isu Asal Bukan capres S (ABS) ternyata juga tak dilewatkan PKS untuk dimanfaatkan jadi materi iklannya. Kalau saja persteruan Demokrat-Golkar yang baru-baru ini sempat terjadi juga dipakai PKS, tampaknya akan lebih menarik. [mut/dil]