INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah berupaya sedapat mungkin menghindari kebijakan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) melalui evaluasi harga yang dilakukan setiap bulan.
"Pemerintah hanya ingin sebisa mungkin menghindari kenaikan harga BBM. Oleh karena itu setiap bulan dilakukan evaluasi harga untuk menyesuaikan dengan harga pasar dunia," kata Menteri Komunikasi dan Informatika M Nuh di Jakarta, Senin (16/2).
Ia mengatakan, hal itu dilakukan karena pemerintah tidak ingin memberikan harga BBM yang tidak logis bagi masyarakat.
Melalui evaluasi harga BBM yang dilakukan setiap bulan dengan pertimbangan tertentu diharapkan akan diketahui harga akhirnya.
"Ujungnya nanti kita akan tahu berapa harga yang pas karena pengaruhnya jelas pada sektor riil," katanya.
Ia mencontohkan, premium yang semula harganya Rp 6.000 per liter menjadi Rp 4.500 per liter saat ini jelas memberikan efek yang nyata pada perekonomian baik secara langsung maupun tidak.
"Bahkan tidak hanya itu, efek penurunan harga BBM juga berdampak pada risiko sosial masyarakat," katanya.
Ia menekankan, terkait harga BBM pemerintah berupaya sebisa mungkin untuk menetapkan harga yang berpihak kepada masyarakat. [*tra]