Minggu, 27 Mei 2012 | 05:02 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Uang Palsu Jadi Modal Kampanye?
Headline
Oleh: Bastaman
web - Selasa, 17 Februari 2009 | 10:27 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Entah kenapa, setiap menjelang pemilihan umum, jumlah uang palsu (upal) yang beredar selalu meningkat. Itu tampak dari data yang dihimpun BI berdasarkan hasil temuan bank dan kepolisian.
Lihat saja, pada Pemilu 1997 uang palsu yang ditemukan Rp 4,4 miliar, lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya, yang hanya Rp 215 juta. Hal yang sama juga terjadi pada Pemilu 1999. Saat itu uang palsu yang ditemukan oleh BI mencapai Rp 6,73 miliar atau lebih besar Rp 570 juta dibandingkan 1998.
Menjelang pemilu 2004, peredaran uang palsu kembali meningkat. Selama periode Januari-Mei, upal yang beredar meningkat 600% dibandingkan periode yang sama di 2003. Sejak 1988 hingga 2004 upal yang beredar diperkirakan lebih dari Rp 800 miliar.
Seperti pada pemilu yang sudah-sudah, tahun ini pun jumlah upal yang beredar diperkirakan akan meningkat pesat. Itu sebabnya, BI sudah menyiapkan langkah preventif dan represif.
Cara preventif dilakukan melalui pembaharuan ciri-ciri uang dan edukasi kepada masyarakat. "Sedangkan langkah represif dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan Kepolisian," kata Erry Setiawan, Kabag Pengelolaan Uang Keluar BI.
Sebenarnya, untuk menangkal peredaran uang palsu sudah ada badan yang menanganinya. Berdasarkan Inpres No. 1/1971, presiden menunjuk Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Kabakin) sebagai Badan Koordinasi Pemberantasan dan Penanganan Uang Palsu.
Sayang, 23 tahun berdiri, badan itu seperti macan kertas. Jangankan membongkar, melakukan tindakan pencegahan pun nyaris belum dilakukan lembaga yang anggotanya terdiri dari polisi, wakil dari Departemen Kehakiman, Kejaksaan Agung, BI, dan Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri).
Belum diketahui, mengapa peredaran uang palsu selalu meningkat di saat menjelang pemilu. "Mungkin uang itu sengaja dicetak untuk membeli kaus dan spanduk pemilu," kata seorang bankir sambil terbahak. Ah, masa sih duit palsu dipakai untuk modal kampanye? [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.