Selasa, 29 Mei 2012 | 05:14 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Dosen ITS Ciptakan Alat Sensor Aroma
Headline
istimewa
Oleh: Budi Winoto
web - Selasa, 17 Februari 2009 | 18:06 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Dosen Teknik Elektro ITS Dr Muhammad Rivai menciptakan teknologi sensor aroma yang akan mampu mendeteksi, menganalisis dan mengidentifikasi berbagai macam bau melalui pola algoritma neural network.

"Biasanya hotel menggunakan indra penciuman manusia untuk aroma masakannya, juga pabrik rokok, atau hewan untuk mendeteksi adanya zat berbahaya," kata pria yang berhasil meraih hibah riset Indonesia Toray Science Foundation (ITSF), yang dihubungi dari Jakarta, Selasa.

Indra penciuman manusia atau hewan tergantung sekali pada "mood" dan hasilnya tidak konsisten. Kalaupun ada alat sensor aroma seperti gas chromatography buatan AS, harganya sangat mahal, sampai sekitar Rp 1 miliar. Sedangkan alat yang dikembangkannya bermodal murah, tak lebih dari Rp10 juta.

Alat yang terdiri dari kolom partisi, sensor dan software tersebut saat ini sudah "dilatih" mengenali 16 jenis aroma seperti aroma apel, melati hingga peppermint. Namun ke depan software tersebut memungkinkan untuk mengidentifikasi lebih dari 30 aroma dengan tingkat presisi yang tinggi.

Cara kerjanya, uap aroma dimasukkan dalam kolom partisi, kemudian uap tersebut akan terpisahkan menjadi komponen penyusun uap yang masing-masing komponen itu diukur intensitas dan konsentrasinya oleh sensor Quartz Crystal Microbalance (QCM).

"Setiap aroma ini akan menghasilkan pola sinyal sensor yang spesifik misalnya aroma tembakau yang baik, aroma buah apel busuk dan segar atau aroma sayur yang terkontaminasi insektisida," jelasnya.

Aroma ini dikenali oleh algoritma neural network yang kemudian dipolakan di layar komputer, ujar pria yang memperoleh Rp32,7 juta dari Toray untuk kepentingan riset lanjutannya itu. Alat ini, urainya, juga bisa digunakan oleh PDAM dalam mendeteksi kualitas air minum atau digunakan di bidang kesehatan seperti mendeteksi aroma urine untuk mengidentifikasi ginjal tak sehat atau bakteri yang ada di saluran kencing.[ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.