INILAH.COM, Jakarta - Partai politik saat ini dinilai belum dapat memberikan pendidikan pollitk yang layak bagi masyarakat. Bahkan kaderisasi kepemimpinan yang ada di parpol terkesan sarat dengan permainan uang.
"Partai itu sekarang sama seperti supermarket yang menyediakan apa saja, tapi ujung-ujungnya tetap harus melewati kasir untuk membayar keinginaan yang dimau," ujar pengamat politik UI Boni Hargens di Warung Daun Paku Bowono, Jakarta, Sabtu (21/2).
Penilaian tersebut diungkapkan Boni karena berkaca kepada masih terjadinya jual beli nomor urut caleg dan tidak berhasilnya kepemimpinan SBY selama lima tahun belakangan. Boni menganggap parpol saat ini cenderung hanya berpikir pragmatis.
"Kesalahan parpol saat ini adalah belum bisa menerapkan agenda perubahan yang signifikan untuk rakyatnya. Yang lebih ditonjol oleh parpol saat ini cenderung hanya kepentingan pragmatis," katanya.
Atas dasar itulah, sambungnya, saat ini muncul desakan-desakan dari masyarakat untuk menghadirkan calon independing yang cenderung lepas dari kepentingan pragmatis parpol.
"Kenapa desakan untuk memunculkan calon independen itu begitu kuat karena sebetulnya pemimpin yang lahir dari partai politik telah gagal. Dengan ada calon independen, maka arah ke pragmatisme lebih kurang potensinya dari pada calon yang lahir dari parpol," cetusnya. [mut/ana]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !