INILAH.COM, Jakarta - Pernyataan Susilo Bambang Yudhoyono bahwa ia siap apabila nanti benar-benar harus bersaing dengan Jusuf Kalla di Pilpres 2009, dinilai sebagai sebuah kepasrahan. Ketimbang tetap bersama namun timbul ketidakenakan, lebih baik SBY-JK tak meneruskan kongsi di enam bulan sisa pemerintahan.
"Pernyataan SBY itu otomatis betuk kekecewaan, putus asa dan pasrah. Sebab secara prosedural Demokrat bisa lolos bila dengan Golkar. Jadi sekarang SBY bingung mencari rekan koalisi," kata pengamat politik Universitas Indonesia Boni Hargens, kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (22/2).
Ia menilai, kondisi saat ini memang sudah tidak akan efektif lagi. Sebab, SBY berjalan sendiri tanpa JK di sisa enam bulan kabinet Indonesia Bersatu. "Percuma, daripada ada bersama, tapi ada perasaan tidak enak dan gontok-gontokan," terang Boni.
Boni juga menyarankan agar para menteri dalam kabinet SBY yang sudah mau beroposisi agar segera mundur. "Daripada kacau bersama lebih baik mundur. Tinggal nanti di- reshuffle kan bisa," imbuhnya.
Di sisi lain, Boni menyebut, pernyataan Kalla adalah langkah yang benar sebagai upaya menjaga harga diri partai Golkar. Namun, hal ini berpotensi menimbulkan disharmoni dengan SBY semakin kuat muncul ke permukaan. Karena itu, SBY harus jalan sendiri tanpa JK. [ikl/nuz]