inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

SBY Pahit Jika Ditinggal Golkar

Headline
Presiden SBY - inilah.com/Rony Wijaya
Oleh: Ahluwalia
Minggu, 22 Februari 2009 | 18:58 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Langkah DPD-DPD Golkar meyakinkan Jusuf Kalla agar partainya mengusung capres sendiri ditanggapi positif berbagai kalangan. Ada juga yang menanggapinya sebagai hukum karma bagi SBY karena telah meninggalkan Megawati saat menjadi presiden.
Sinyal perceraian SBY dengan JK di 2009 ini akan banyak dimanfaatkan oleh parpol-parpol untuk mendekati Golkar. Partai-partai yang selama ini berada di luar lingkaran koalisi Demokrat akan diuntungkan dengan kondisi tersebut.
Semua menyadari, dari koalisi parpol pendukung pemerintahan SBY, kekuatan Golkar adalah yang paling kuat di parlemen. Partai Bulan Bintang dan PKS, koalisi kubu SBY yang lain, harus diakui, tidaklah setangguh Golkar.
Golkar menguasai 129 kursi jauh di atas Partai Demokrat, PPP dan PKS yang tidak menembus angka 100 kursi DPR. Tetapi, kenyataannya Golkar merasa tidak diperlakukan bak mitra. Para Ketua DPD Golkar menyatakan, seharusnya Golkar itu diperlakukan sebagai mitra pemerintah, bukan lawan.
Partai Gerindra pun mendukung langkah Golkar itu. "Golkar harus berani mencalonkan capres sendiri karena nantinya Demokrat akan ninggalin Golkar," kata Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Permadi.
Selama ini Demokrat sudah terlalu sering menzalimi Golkar. Hanya saja SBY selaku presiden yang juga Ketua Dewan Pembina Demokrat masih bersikap sopan kepada JK dan Golkar.
Banyak pihak memprediksi, jika Golkar tidak berani meninggalkan Demokrat dan SBY saat ini maka suara Golkar di Pemilu 2009 akan menurun. "Golkar akan semakin memble dan tidak akan dipilih rakyat karena sudah dianggap tidak punya pemimpin yang pantas bila terus dengan SBY," imbuh Permadi.
Sinyal perceraian SBY dengan JK di 2009 ini akan banyak dimanfaatkan oleh parpol-parpol untuk mendekati Golkar. Partai-partai yang selama ini berada di luar lingkaran koalisi Demokrat akan diuntungkan dengan kondisi tersebut.
Setelah PPP dan PKS yang bersiap meninggalkan SBY, kini giliran Partai Golkar mempertimbangkan langkah untuk bercerai. Golkar lebih tertarik untuk mengajukan capres ketimbang mempertahankan duet SBY-JK.
Di mata politisi PDIP, langkah Golkar, PKS dan PPP ini merupakan karma pala bagi SBY yang dulu meninggalkan Megawati. "Hukum karma niscaya terjadi karena dulu SBY meninggalkan Mega," kata Budiman Sudjatmiko, seorang politisi PDIP.
Kini Golkar sudah melangkah ke depan dengan menyiapkan capres, bukan cawapres. Hasil survei sejumlah lembaga, seperti Lembaga Survei Indonesia, Indobarometer, dan Polling Center memperkirakan Golkar bakal unggul tipis dalam pemilihan legislatif.
Golkar diramalkan meraih sekitar 19,3% suara, dibayangi ketat Partai Demokrat (16,2%) dan PDI Perjuangan (14,8%). Dengan ramalan perolehan suara seperti itu, diperkirakan tak ada partai yang bisa mencalonkan presiden tanpa berkoalisi
Karena itu, benarlah kata-kata Sultan HB X bahwa jika ingin menang, capres Golkar harus berkoalisi dengan partai lain. "Kalau sama-sama dari Golkar, ya, tidak mungkin," katanya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.