inovasi portal berita
Kamis, 9 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,988.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Ponari dan Birahi Jaipong

Oleh:
Senin, 23 Februari 2009 | 00:03 WIB
"Hai, itu tahayul, klenik, jangan ikuti," teriak sekelompok orang. "Pake yang ilmiah, rasional dong." Riuhnya teriakan itu, meluncur deras saat hadir fenomena 'pengajaiban' bocah bernama Ponari yang sanggup memberikan perantara kesembuhan bagi banyak orang.

Itu juga yang dikatakan oleh seorang kyai di salah satu tayangan televisi, seperi yang juga ditulis Emha, "Jangan minta kepada Ponari, Ponari itu makhluk. Jangan minta kepada batu, batu itu makhluk. Jangan berlaku syirik sehingga menjadi manusia musyrik. Mintalah Khaliq, Allah Swt..."

Bahwa dalam masyarakat kita acap terjadi salah dan sesat pikir, bagaimana membandingkan keklenikan 'pemuja' Ponari yang berusaha sembuh dengan para pasien dokter yang juga melakukan hal yang sama.

Emha menuliskan cukup apik. Ketika sebagian orang mencemooh fenomena 'pemujaan' Ponari karena mendekatkan pada perbuatan yang dibenci Allah, Syirik; Ponari itu makhluk. Begitu, pada saat yang sama, muncul jawaban: "Jangan minta kesembuhan kepada dokter, dokter itu (juga) makhluk. Jangan minta kepada pil dan obat-obatan, pil dan obat-obatan itu (juga) makhluk. Jangan berlaku syirik, sehingga menjadi manusia musyrik."

Artinya, pesan pertama ini, saya tafsiri sebagai sebuah perumpamaan bahwa kita mencari kesembuhan itu bukan hanya kepada lembaga kesehatan mainstream. Namun, justru negeri kita mempunyai kekayaan berupa sistem pelayanan kesehatan yang menyatu dengan tradisi dan kebudayaan kita.

Di masyarakat kita juga banyak fenomena pengobatan alternatif, ramuan obat-obat tradisional, ginseng, akupunktur, terapi pyramidal, terapi magnetis, homeopathi, sampai pengobatan spiritual seperti laku Ponari itu. Atau sekadar membawa air biasa, menuju sang Kyai untuk didoakan kemudian diminumkan kepada si sakit.

Ini, yang kata Emha, digambarkan seperti saat Nabi Musa lari bersama pasukan saat dikejar Raja Firaun. Di tengah perjalanan, Musa sakit perut, lantas mengeluh kepada Allah, "Ya Allah, apa yang bisa aku lakukan agar sakit perutku ini hilang?"

Allah lantas menyuruh Musa untuk naik ke atas bukit dan memetik daun dari sebatang pohon untuk menyembuhkan sakit perutnya. Musa naik dan, sebelum menyentuh daun, perutnya sudah sembuh.

Apakah kita akan ambil konklusi, tulis Emha, "Itu daun mujarab banget, belum disentuh, perut udah sembuh" Atau perumpamaan, apakah air yang telah 'dimantrai' sang Kyai itu begitu manjur, dan sang Kyai ini sosok yang sakti?

Musa yang nabi itu juga kemudian protes saat sakit perutnya yang kembali kambuh, kemudian tanpa basa-basi Ia kembali naik ke atas bukit dan memakan daun itu, dan tak sembuh.

Saya kembali kutip tulisan Emha: "Dalam logika saya, Allah menjawab dengan penuh kegelian: "Hei, Sa. Emang siapa yang bilang bahwa daun bisa menyembuhkan perutmu? Meskipun daun itu mengandung unsur-unsur yang secara ilmiah memang rasional bisa menyembuhkan perutmu, Aku bisa bikin tetap tidak menyembuhkan. Tadi waktu sakit perut yang pertama kau mengeluh kepadaku, tapi pada yang kedua kau tak mengeluh dan langsung saja lari ke bukit ambil daun. Karena kamu salah cara berpikirmu. Salah pandangan ilmu dan cintamu kepada segala sesuatu. Kamu salah peradaban. Kamu pikir daun bisa menyembuhkan. Itu tergantung mau-Ku. Aku menyembuhkanmu bisa pakai daun, air putih, batu, lewat Gaza, Tursina, Jombang, atau mana pun semau-mau-Ku... Berapa lama sebuah anugerah Kuberikan, itu rahasia-Ku, bisa sesaat, sebulan, setahun, terserah Aku."

'Birahi' Jaipong. Lho..lholhoo.kok berbelok ke tema ini? "he, ada apa mas", sebuah suara tiba-tiba menghardik saya. Kembali ke tema seksi si 'Ponari Sweat'. Begini lho, ini masih dugaan saya (yang begitu awam). Saya jadi berpikir, bahwa si Jaya Suprana yang menuliskan pengakuan negara Jermansebagai Negara modernatas pelayanan kesehatan yang multi jalur dan WHO yang memberikan statemen bahwa pelayanan kesehatanyang multi jalur itubukan sekadar suatu bentuk ilmu, melainkan bagian dari peradaban dan kebudayaan, tampaknya bisa jadi landasan korelasi.

Bahwa korelasinya, karena baru-baru ini, ada tema yang sedikit menyembulkan aura pornografi atas status tari Jaipong yang mashur di provinsinya Dede Yusuf dan Heryawan itu.

Lho, lantas hubungannya apa dengan Ponari. Ya, fenomena Ponari dan tari Jaipong jelas sebuah karya maha agung yang terpahat dalam sejarah bangsa ini. Kita, mau tidak mau, harus mengakuinya.

Nah, jika main 'ngotot-ngototan' sederhana, lha wong yang di negeri Jerman aja, mereka pada ngakuin tradisipelayanan kesehatandi luar mainstream (rumah sakit, dokter dan semacamnya), kenapa kita yang punya tradisi dan kebudayaan melimpah kok yo ikut-ikutan rame dan memberisikkan si Ponari dan goyangan Jaipong yang konon bikin birahi itu?

Kok orang-orang kita itu sering gagap, kagetan, reaksioner, dan ikut-ikutan, seperti itu. 'Batu ajaib' Ponari dikritisi, pake ilmiah lagi. Tari Jaipong di'senggol-senggol' karena menyenggol keimanan dan keamanan si birahi.

Wiwit R Fatkhurrahman, wiwit.fatur@gmail.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.