INILAH.COM, Bogor - Pertemuan empat mata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang berlangsung tertutup berbuah kesepakatan. Salah satunya mengurangi gesekan politik antara Partai Demokrat dan Partai Golkar jelang pemerintahan berakhir.
"Presiden dan wakil presiden bersepakat mengurangi misunderstanding dalam dinamika perpolitikan saat ini, baik internal (Partai Golkar), kader-kadernya sendiri (Partai Demokrat)," kata Juru Bicara Kepresidenan, Andi A. Mallarangeng.
Hal tersebut disampaikan Andi dalam konferensi persnya usai pertemuan SBY-JK, di kediaman SBY, di Puri Cikeas Indah, No. 2 Bogor, Jawa Barat. Minggu (22/2). Menurut Andi, Hal tersebut dilakukan agar pemerintahan berjalan dengan baik sesuai amanah rakyat. SBY-JK juga sepakat menjaga hubungan baik antara Partai Golkar dan Partai Demokrat.
"Inilah pemerintahan pertama yang bisa menyelesaikan pemerintahan dengan baik dalam sejarah pasca orde baru," tegas Andi yang juga Ketua DPP Partai Demokrat.
Mengenai kesiapan JK menjadi calon presiden, diakui Andi, dirinya tidak mengetahui apakah dibahas dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 55 menit itu. "Saya tidak ikut serta dalam pertemuan tadi. Karena dilakukan empat mata," ujar Andi.
Sedangkan kepastian apakah JK harus mundur sebagai wapres, karena pencalonannya sebagai presiden, Andi tidak menjelaskan secara rinci. "Selama ini hubungan Demokrat dan Golkar berjalan dengan baik. Hanya itu, Selainnya saya tidak tahu," ucap pria berkumis ini.
Ketika ditanya tentang cara apa yang dilakukan dalam menyelesaikan kesalapaham SBY-JK, Andi juga tidak tidak menjawab dengan tegas. Begitu juga dengan kepastian apakah Partai Demokrat dan Partai Golkar masih berkoalisi, diakui Andi, dirinya tidak mengetahui pasti.
"Golkar sahabat baik Demokrat, tidak musuh, semua bekerja sama. Kita belajar dari Partai Golkar sebagai partai senior," tandasnya. [jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !